Rabu 23 Oct 2019 09:45 WIB

Pertanian Organik tidak Sepenuhnya Ramah Lingkungan

Riset menunjukan pertanian organik justru lebih banyak menghasilkan emisi karbon.

Red:
.
.

Pertanian organik digadang sebagai produk yang lebih sehat dan berkelanjutan, karena menggunakan lebih sedikit pestisida, pupuk dan herbisida. Pendukungnya juga mengklaim metode ini mampu menghemat air dan mengendalikan erosi. Namun riset menunjukan pertanian organik justru lebih banyak menghasilkan emisi karbon.

Pertanian organik dan mitos ramah lingkungan:

  • Tanaman pangan organik sebagian besar menghasilkan lebih sedikit emisi CO2, tetapi hasilnya juga lebih kecil
  • Kecilnya volume produksi menyebabkan emisi dari pertanian organik melampaui pertanian non-organik
  • Mengurangi konsumsi daging justru lebih banyak menghemat emisi daripada metode pertanian organik

 

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications (22/10/2019) menyimpulkan mengubah pertanian global menjadi organik ternyata akan menghasilkan lebih banyak emisi karbon dioksida.

Dalam skenario di mana Inggris dan Wales secara hipotetis telah beralih ke 100 persen praktik pertanian organik, para peneliti menemukan metode pertanian organik biasanya memiliki emisi nitro oksida dan karbon dioksida yang jauh lebih rendah per unit area yang ditanami, berkat penggunaan tanaman pengikat nitrogen ketimbang pupuk.

Metode ini juga diketahui mampu menyerap karbon tanah yang juga lebih tinggi pada tanaman organik, dibandingkan dengan non-organik.

Tetapi penelitian ini mengungkap volume makanan yang ditanam per unit di area pertanian organik ternyata 40% jauh lebih kecil daripada di area pertanian konvensional sehingga penghematan emisi yang terjadi tidak cukup untuk mengimbangi penurunan produktivitas.

"Pertanian organik tentu membutuhkan lebih banyak tanah untuk menghasilkan makanan dalam jumlah tertentu," kata penulis utama studi ini, Guy Kirk dari Cranfield University.

 

Menurutnya hal ini dipicu oleh kebutuhan untuk menanam kacang-kacangan di antara tanaman utama untuk memperbaiki nitrogen di tanah daripada menggunakan pupuk.

Ditengah kuatnya pemahaman kalau pertanian organik lebih ramah lingkungan dalam segala hal, namun pakar iklim dan industri primer Richard Eckard dari University of Melbourne menilai temuan itu sama sekali tidak mengejutkan.

"[Temuan Ini] logis, penilaian yang adil, dan seperti yang sudah saya perkirakan," kata Profesor Eckard.

"Ada garis pemikiran yang kuat, tentu saja di bidang yang saya tekuni, yang mengatakan bahwa konsekuensi metode pertanian organik ini harus diperhitungkan.

"Jika semua orang melakukan pertanian organik, mungkin meskipun akan terjadi dampak lingkungan yang lebih sedikit [dari pertanian industri], namun metode ini tidak mampu menghasilkan sebagian kecil dari makanan yang mampu kita produksi saat ini."

Mengurangi daging lebih efektif

 

Meskipun tren keseluruhannya menyimpulkan makanan organik menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih besar, namun hitungan emisi dari jenis makanan yang ditanam sebagian tetap lebih unggul.

Hal-hal seperti kubis, gandum, dan gandum hitam menghasilkan lebih sedikit gas rumah kaca bila ditanam secara organik daripada yang lainnya.

Oleh karena itu alih-alih menerapkan praktik pertanian organik secara keseluruhan, teknik ini harus disesuaikan dengan tanaman dan lingkungan tertentu, kata Profesor Kirk.

Penelitian ini juga menyatakan sementara pengurangan emisi dapat dicapai dengan beralih antara metode pertanian organik dan non-organik, namun pengurangan emisi yang lebih signifikan justru bisa dilakukan dengan mengubah pola makan yakni dengan mengurangi konsumsi daging..

"Mengingat kontribusi peternakan hewan yang jauh lebih besar terhadap emisi gas rumah kaca, dampak yang lebih besar dapat diperoleh dengan mengurangi konsumsi daging," kata penulis studi ini.

Ini terutama berlaku di tempat-tempat seperti Australia, di mana konsumsi daging merah kami jauh di atas rata-rata global.

Di Australia, pertanian berkontribusi sekitar 14 persen dari total emisi. Lebih dari 70 persennya berasal dari ternak.

Dan ternak adalah penyumbang tinggi gas metana, yang lebih kuat daripada CO2 dalam hal potensi pemanasan, kata Profesor Kirk.

"Memproduksi daging membutuhkan lebih banyak kalori tanah per makanan daripada tanaman, dan hewan pemamah biak juga menghasilkan metana yang per molekulnya mengandung lebih dari 20 kali efek pemanasan global CO2."

Simak berita-berita menarik lainnya di situs ABC Indonesia.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement