Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Sama-sama Afrika, Mengapa Warna Kulit Mesir tak Hitam?

Ahad 27 Okt 2019 19:31 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Nashih Nashrullah

 Warga Nigeria dan migran dari dunia ketiga bergerak menuju Libya dari Agadez, Niger, Senin (4/6). Migran dari seluruh sub-Sahara Afrika--Mali, Gambia, Huinea, Pantai Gading, Niger, dan lainnya--adalah bagian dari migrasi massal menuju Eropa. Sebagian dari mereka melarikan diri dari kekerasan di negara asal, sebagian lain hanya ingin mencari penghidupan.

Warga Nigeria dan migran dari dunia ketiga bergerak menuju Libya dari Agadez, Niger, Senin (4/6). Migran dari seluruh sub-Sahara Afrika--Mali, Gambia, Huinea, Pantai Gading, Niger, dan lainnya--adalah bagian dari migrasi massal menuju Eropa. Sebagian dari mereka melarikan diri dari kekerasan di negara asal, sebagian lain hanya ingin mencari penghidupan.

Foto: AP Photo/Jerome Delay
Mesir, Libya, dan Tunisa berkulit putih..

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK – Penampilan orang Afrika Utara telah menjadi perdebatan panjang oleh orang Afrika selama satu abad terakhir. Sebab, orang Afrika Utara seperti penduduk Libya, Mesir dan Tunisia, tidaklah berkulit hitam. Mereka lebih mirip bangsa Arab ataupun Eropa.

Baca Juga

Sebagaimana ditulis Nii Ntreh di laman face2faceafrica.com pada Sabtu (26/10). Ia menyebut orang Afrika Utara memang mirip dengan orang Timur Tengah atau Eropa Mediterania. Secara geografis, lokasi mereka juga berdekatan.

Menurut Ntreh, kesamaan itu bisa dijelaskan dua hal. Yakni, kontribusi iklim dunia dan percampuran keturunan penduduk Afrika Utara yang berlangsung sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu.

Ntreh juga memaparkan bahwa percampuran itu lantaran adanya invansi bangsa lain ke Afrika Utara. Yakni Ivansi bangsa Arab pada abad ke-6 masehi dan juga invansi Eropa selama 500 tahun sebelumnya.

Ntreh membuat kesimpulan demikian dengan menjelaskan rupa orang Afrika Utara sebelum invansi lewat buku berjudul Johanis, sebuah karya penyair Romawi abad ke-6, Corippus. Dalam buku itu, orang Afrika Utara disebut Barber (merujuk pada Barbarian) sebagai "facies nigroque colorus" yang berarti "wajah berwarna hitam". 

Berbeda dengan yang ada sekarang. Pada abad yang sama, Procopius dalam Buku IV History of the Wars membahas perbedaan antara bangsa Vandal yang telah menetap di Afrika Utara dan bangsa Moor. Procopius mengatakan bahwa Vandal tidak "berkulit hitam seperti Maurusioi (Moor)".

Lebih lanjut, Ntreh juga mencoba mengidentifikasi wilayah atau peradaban Nubia kuno. Wilayah yang kini terletak di sekitar Sudan utara dan Mesir selatan.

Pada puncak peradaban mereka sekitar abad ke 5 sebelum masehi, orang-orang Nubia mengembangkan bahasa mereka sendiri, seni, arsitektur, pertanian, politik, dan lainnya. Orang-orang Berber juga merupakan kelompok lain yang merupakan penduduk asli Afrika Utara. 

Alih-alih menjadi kelompok yang dapat diidentifikasi, Berber adalah kumpulan orang-orang dari sekitar Aljazair modern, Tunisia, Maroko, dan Mauritania.

Nama asli orang tersebut adalah Amazigh tetapi dipanggil Berber oleh orang Romawi. Berber berasal dari dari Barbarian atau orang barbar. Mereka sebagian besar hidup nomaden. Namun, beberapa sejarawan menempatkan keberadaan mereka di Afrika Utara sekitar 3000 SM.

 

  

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA