Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Korut Peringatkan AS Permusuhan Bisa Berujung Baku Tembak

Senin 28 Oct 2019 08:04 WIB

Red: Ani Nursalikah

Pertemuan Presiden AS Donald J. Trump (kiri) dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (kanan) di Zona Demiliterisasi Korea.

Pertemuan Presiden AS Donald J. Trump (kiri) dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (kanan) di Zona Demiliterisasi Korea.

Foto: EPA
Kim Jong-un tetapkan satu tahun tenggat perundingan denuklirisasi dengan AS.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Korea Utara (Korut) mengatakan hubungan Korut-Amerika Serikat (AS) tidak ada kemajuan dan permusuhan yang bisa mengarah pada aksi baku tembak terus berlangsung, Ahad (27/10).

Dalam pernyataan yang dimuat atas nama pejabat tinggi Korut, Kim Yong Chol, KCNA mengatakan, AS akan salah jika menyepelekan batas waktu satu tahun karena hubungan pribadi yang dekat antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong-un.

Kim sudah menentukan akhir tahun sebagai tenggat perundingan pelucutan senjata nuklir (denuklirisasi) dengan Washington. Kim Yong Chol adalah utusan perundingan nuklir Korut dengan AS sebelum pertemuan puncak kedua antara Trump dan Kim di Vietnam pada Februari berakhir dengan kegagalan.

Kim Yong Chol mengatakan AS selama ini menekan Korut dengan cara yang lebih licik dan ganas. Dia menilai AS justru tidak mengindahkan imbauan Korut agar mengambil pendekatan baru.

Ia menambahkan AS juga terus-menerus menekan negara-negara lain untuk menerapkan sanksi-sanksi PBB terhadap Korut. Pernyataan Kim Yong Chol itu menyebutkan ia berharap hubungan AS-Korut tidak menekankan yang ada ialah musuh permanen, bukan teman permanen.

Pernyataan itu dikeluarkan hanya beberapa hari setelah Korut meminta Korea Selatan membongkar berbagai fasilitas miliknya dari Mount Kumgang, kawasan tempat berlibur di Korut. Pengelolaan kawasan itu merupakan simbol utama kerja sama, yang baru-baru ini dikritik Pyongyang dengan sebutan lusuh dan kapitalis.

Korut mengirim nota kepada Kementerian Penyatuan Korea Selatan yang berisi permintaan agar Korsel melaksanakan pembongkaran, Jumat (25/10). Selain itu, Korut ingin berdiskusi melalui pertukaran dokumen.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA