Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Pasukan Prancis Bunuh Pemimpin Payung Milisi Alqaidah

Rabu 06 Nov 2019 09:26 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ani Nursalikah

Tentara Prancis berjalan melewati sebuah hanggar di pangkalan udara militer Mali di Bamako. (Reuters/Joe Penney)

Tentara Prancis berjalan melewati sebuah hanggar di pangkalan udara militer Mali di Bamako. (Reuters/Joe Penney)

Militer Mali sedang berjuang menahan pemberontakan ekstremis.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Pasukan Prancis membunuh salah satu milisi terkemuka Afrika di wilayah Sahel pada 9 Oktober. Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mengumumkan kematian Ali Maychou pada Selasa (5/11).

Ali Maychou adalah orang nomor dua yang memimpin Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM). Kelompok tersebut merupakan payung bagi gerilyawan yang memiliki hubungan dengan Alqaidah di Sahara Afrika Barat.

"(Ia) adalah teroris paling dicari kedua di Sahel, termasuk oleh Amerika," ujar Parly di atas pesawat pemerintah ketika dia kembali dari kunjungan resmi ke Afrika Barat wilayah.

Dikutip dari France 24, Parly menyatakan, Ali Maychou terbunuh pada 8 Oktober malam di Mali dengan bantuan pasukan Mali dan dukungan Amerika Serikat (AS). Pengumuman itu muncul ketika Parly berusaha meyakinkan Mali tentang dukungan pasukan Eropa, setelah serangan milisi yang menghancurkan pekan lalu yang menewaskan puluhan tentara.

Militer negara itu sedang berjuang menahan pemberontakan ekstremis. Meskipun bantuan pasukan dari Prancis, Afrika, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa mencoba menahan serangkaian serangan mematikan, kerapuhan suatu wilayah tetap saja bisa menimbulkan kekerasan dari kelompok ekstremis yang merenggut ratusan nyawa.

Sebelum meninggalkan Mali pada Selasa, Parly menyatakan keyakinannya atas keamanan wilayah tersebut. Prancis yang mengerahkan 4.500 pasukan Barkhane di Sahel pada 2014 sedang mendekati terobosan dalam upaya meyakinkan mitra Eropa untuk meningkatkan bantuan militer.

Kelompok JNIM telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan terbesar di Sahel sejak diluncurkan secara resmi pada 2017. Terdiri dari beberapa kelompok yang terkait dengan al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM), aliansi kelompok ini dipimpin oleh seorang Tuareg Mali, Iyad Ag Ghaly, seorang veteran 29 tahun.

Ali Maychou telah bergabung dengan AQIM pada 2012 sebelum mendirikan JNIM bersama Iyad Ag Ghaly. Mereka menjadi sosok yang mendalangi ekspansi di Sahel.

Sosok itu pun tokoh kunci JNIM kedua yang terbunuh tahun ini. Sebelumnya, pasukan komando Prancis membunuh veteran milisi Djamel Okacha pada Februari di dekat Timbuktu.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA