Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Museum British Penerima Barang Curian Terbesar di Dunia

Kamis 07 Nov 2019 04:15 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Andi Nur Aminah

British Museum di London/Ilustrasi

British Museum di London/Ilustrasi

Foto: dofreestuff.com
Museum malah mengizinkan wisata barang curian tak resmi menjadi koleksi yang dimiliki

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Museum British dituduh memamerkan banyak properti budaya yang dihasilkan dari pencurian. Tuduhan ini dilayangkan oleh pengacara hak asasi manusia terkemuka asal dari Australia, Geoffrey Robertson QC.

Baca Juga

"Para wali dari Museum British telah menjadi penerima properti curian terbesar di dunia, dan sebagian besar harta rampasan mereka bahkan tidak dipajang di depan umum," kata Robertson dikutip dari Guardian, Rabu (6/11).

Robertson menyatakan, lembaga-lembaga Eropa dan Amerika Serikat (AS) untuk mengembalikan harta yang diambil dari orang-orang yang ditaklukkan oleh penakluk atau penguasa kolonial. Bukan malah menyimpan atau memajang barang-barang jarahan itu.

Museum malah mengizinkan wisata barang curian tidak resmi menjadi koleksi yang dimiliki. Contoh saja kelereng Elgin, Hoa Hakananai'a, perunggu Benin, dan properti budaya yang dicuri lainnya. Tiga item tersebut berasal dari Yunani, Pulau Paskah, dan Nigeria.

Robertson menyatakan, museum sering kali membuat serangkaian kebohongan dan setengah kebenaran untuk menyimpan keberadaan asal usul benda. Mereka sering menyematkan kata menyelematkan benda, sehingga menjadikan kepemilikan benda tersebut sah.

Selain Museum British, Louvre di Paris dan Metropolitan di New York juga melakukan hal yang sama. Mereka mengambil warisan benda dari wilayah lain dengab mencuri dari warga ketika perang terjadi kemudian menduplikasi.

Museum-museum mengembalikan kekayaan budaya berdasarkan prinsip-prinsip hukum hak asasi manusia. Robertson mengamati Presiden Prancis Emmanuel Macron telah memperkuat perdebatan dengan menyatakan "warisan budaya Afrika tidak lagi dapat menjadi tawanan museum Eropa".

"Politisi mungkin membuat permintaan maaf yang lebih atau kurang tulus atas bekas kerajaan mereka. Tetapi, satu-satunya cara yang tersedia untuk memperbaiki adalah mengembalikan rampasan dari Mesir dan China dan penghancuran masyarakat Afrika, Asia, dan Amerika Selatan," kata Robertson.

Robertson sedang menyiapkan laporan tentang penyatuan kembali kelereng Elgin untuk pemerintah Yunani dengan Amal Clooney dan almarhum Profesor Norman Palmer. Dalam bukunya yang baru, dia mengakui ganti rugi mungkin mendorong klaim lebih lanjut.

Mantan kepala Museum Glasgow, Sheffield dan Manchester, Julian Spalding, sepakat kalau Museum British harus mengembalikan kelereng Elgin. Hal ini mempertimbangkan benda tersebut adalah bagian intrinsik dari salah satu karya seni terbesar dunia.

Seorang juru bicara British Museum mengonfirmasi kelereng Elgin diperoleh secara legal, dengan persetujuan otoritas Ottoman saat itu. "Itu tidak diperoleh karena konflik atau kekerasan. Kegiatan Lord Elgin diselidiki secara menyeluruh oleh komite pemilihan parlemen pada tahun 1816 dan terbukti sepenuhnya legal," katanya.

Museum British mengakui sejarah sering kali sulit ditelusuri untuk beberapa koleksinya, termasuk cara-cara mendapatkannya. "Dalam kasus perunggu Benin, museum mengunjungi Kota Benin pada tahun 2018 untuk berbicara tentang rencana untuk Museum Kerajaan baru di Kota Benin dan bagaimana museum dapat membantu," ujarnya. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA