Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Warga Cile Khawatir Pelanggaran HAM Meningkat

Kamis 07 Nov 2019 10:40 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Sekitar satu juta warga Cile melakukan aksi damai di Santiago, Cile, Jumat (25/10).

Sekitar satu juta warga Cile melakukan aksi damai di Santiago, Cile, Jumat (25/10).

Foto: AP Photo/Rodrigo Abd
Cile menyatakan masa darurat nasional setelah kerusuhan pecah bulan lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, SANTIAGO -- Marusella Mallea menempatkan foto adiknya Cesar di ruang keluarga. Di foto itu Cesar menyandarkan tubuhnya ke mobil dan tersenyum lebar ke arah kamera.

Baca Juga

"Lihat, semuanya tentang tawa, ia merasa semua hal lucu," kata Mallea sambil menitikan air mata kepada BBC, Kamis (7/11).

Di depan foto itu, ada lilin yang menyala, mengubah foto itu sebagai kenang-kenangan bagi Cesar. Beberapa hari setelah Cile menyatakan masa darurat nasional dalam kerusuhan bulan lalu.

Cesar berkendara setelah jam malam diberlakukan dan ia tidak memiliki izin. Menurut Marusella di pinggir Santiago peraturan jam malam tidak  diberlakukan secara ketat. Cesar keluar bersama putrinya pukul 23.00 waktu setempat.

Beberapa jam kemudian keluarganya mendapat telepon. Cesar bunuh diri di dalam sel polisi. Marusella mengataka ia tidak tahu adiknya ditangkap. Tidak ada catatan dalam penangkapan Cesar.

Kamera juga gagal menangkap momen Cesar bunuh diri. Buruknya catatan yang dimiliki polisi atau carabineros membuat Marusella meragukan versi mereka.

"Ia memiliki segalanya untuk hidup," kata Marusella mengenang Cesar.

Peristiwa tersebut membawa Marusella ke masa kediktatoran. Masa-masa sulit bagi rakyat Cile. Ia mengatakan saat itu ia baru berusia 2 tahun sementara Cesar baru berusia beberapa bulan.

"Saya masih mengingatnya seperti hal itu terjadi kemarin, kami benar-benar menderita selama kudeta tahun 1973," kata Marusella.

Usai Jenderal Pinochet menggulingkan presiden terpilih Salvador Allende pada tahun 1973. Ribuan rakyat Cile hilang, dibunuh, atau dipenjara tanpa pengadilan.

"Sekarang luka itu dibuka lagi, tapi kali ini lebih dalam karena saat itu kami tidak kehilangan siapa pun, sekarang adik saya tidak lagi bersama kami, dan dia tidak pernah memiliki kaitan dengan polisi atau pengunjuk rasa," kata Marusella.  

Polisi menolak berkomentar karena kasus ini merugikan mereka. Presiden Cile Sebastian Pinera membela masa darurat nasional yang ia deklarasikan pada 19 Oktober lalu.

"Kami harus menyerukan masa darurat karena ini satu-satunya cara untuk mengembalikan ketertiban dan melindungi warga kami," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA