Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Rusia Gunakan Helikopter Berpatroli di Perbatasan Suriah

Jumat 08 Nov 2019 15:48 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ani Nursalikah

Kendaraan militer Turki yang membawa tank sedang menuju Suriah Utara untuk operasi militer di daerah Kurdi, dekat perbatasan Suriah, dekat distrik Akcakale di Sanliurfa.

Kendaraan militer Turki yang membawa tank sedang menuju Suriah Utara untuk operasi militer di daerah Kurdi, dekat perbatasan Suriah, dekat distrik Akcakale di Sanliurfa.

Foto: EPA-EFE/Erdem Sahin
Patroli ini dilakukan untuk membantu melindungi polisi militer Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSCOW -- Rusia mengerahkan helikopter militer untuk berpatroli di daerah dekat perbatasan Suriah dengan Turki, Jumat (8/11). Patroli ini dilakukan untuk membantu melindungi polisi militer Rusia yang melakukan patroli di darat.

Laporan kantor berita Interfax menyatakan, pilot militer Rusia Dmitry Ivanov mengatakan, Moskow akan mengerahkan helikopternya di beberapa rute patroli di ketinggian 50-60 meter. "Penerbangan akan dilakukan setiap hari di sepanjang semua rute patroli," katanya.

Militer Turki menyerbu wilayah perbatasan yang dikuasai Kurdi di Suriah utara  setelah pasukan Amerika Serikat ditarik pada 6 Oktober. Operasi militer ini diklaim sebagai upaya mendorong kembali YPG dari perbatasannya. Turki mengklaim YPG adalah cabang teroris dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang dan melakukan pemberontakan di Turki sejak 1984.

Pasukan Turki telah menciptakan zona aman antara Tal Abyad dan kota Ras al-Ain, mendorong YPG keluar dari daerah itu. Puluhan ribu orang meninggalkan rumah pada Oktober di kota-kota perbatasan di Suriah utara, termasuk Tal Abyad dan Ras al-Ain, ketika pasukan Turki mendorong masuk ke daerah itu.

Kesepakatan gencatan senjata pertama kali dicapai Ankara dengan Washington. Kemudian, Turki melakukan perjanjian dengan Moskow untuk menghentikan pertempuran dalam beberapa pekan terakhir. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris mengatakan sekitar 300 ribu orang telantar dan 120 warga sipil tewas akibat serangan.

Serangan itu pun dikecam oleh sejumlah negara di Barat dan Timur Tengah. Hal ini membuat pemberontak Tentara Nasional Suriah yang didukung Turki sebagian besar telah mengendalikan Tel Abyad.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA