Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Pakistan Tutupi Wabah Polio Baru

Sabtu 09 Nov 2019 06:34 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Andi Nur Aminah

Seorang anak mendapatkan vaksin polio dari petugas kesehatan di Karachi, Pakistan

Seorang anak mendapatkan vaksin polio dari petugas kesehatan di Karachi, Pakistan

Foto: Guardian
Belasan anak telah terinfeksi dengan strain polio P2 yang paling menular dan ganas.

REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD -- Pejabat di Pakistan dituduh menutupi wabah polio yang paling berbahaya. Untuk mengatasi itu, telah direncanakan program vaksinasi rahasia untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

Baca Juga

Menurut sebuah sumber dalam program pemberantasan polio Pakistan, selusin anak telah terinfeksi dengan strain polio P2. Kondisi ini menyebabkan kelumpuhan dan terutama memengaruhi anak berusia di bawah lima tahun. Koordinator pusat operasi darurat nasional program pemberantasan polio Pakistan Dr Malik Safi mengkonfirmasi wabah P2, tetapi, tidak memberikan rincian masalah.

Strain P2 sebelumnya telah dinyatakan menghilang dari negara itu. Namun, kasus baru-baru ini diduga disembunyikan oleh pemerintah dari donor internasional. Kasus yang mengakibatkan kelumpuhan, telah ditemukan terutama di distrik Diamer, wilayah di ibu kota, Islamabad.

Di bawah hukum Pakistan, setiap kasus polio baru di negara itu harus didaftarkan secara resmi kepada pemerintah, kemudian memperingatkan badan kesehatan internasional. "Namun, untuk menyembunyikan kelalaian dan kinerja buruk mereka, Babar Bin Atta memutuskan untuk tidak mengungkapkan kasus kepada siapa pun," kata sumber itu. Babar Bin Atta merupakan perwakilan utama untuk pemberantasan polio di Pakistan.

Munculnya kembali P2 tidak hanya akan menjadi langkah dramatis dalam perjuangan Pakistan melawan polio. Kondisi ini menjadi gejala salah urus di bawah kepemimpinan Bin Atta.

Polio ada dalam tiga untai berbeda, P1, P2, dan P3. P2 terkenal sebagai yang paling menular dan paling ganas dalam dampaknya terhadap orang yang terinfeksi. Menurut sumber dalam program, wabah baru pada untai P2 datang dari salah urus vaksin, yang membawa langsung penyakit menciptakan kekebalan.

Setelah dieliminasi dari Pakistan lima tahun lalu, semua vaksin P2 seharusnya dikumpulkan dari rumah sakit dan klinik mestinya tidak digunakan. Namun, tampaknya vaksin P2 diberikan secara tidak sengaja dan seorang anak menjadi pembawa penyakit tersebut. Tes pada kasus-kasus baru yang diduga menunjukkan anak-anak semuanya membawa bentuk penyakit yang diturunkan dari vaksin.

"Di suatu tempat, seseorang telah menggunakan vaksin ini secara tidak akurat dan karena kelalaian ini, virus ini dibawa kembali ke lingkungan dan anak-anak kita lagi terinfeksi P2," kata sumber yang membocorkan kepada Theguardian.

Namun, alih-alih mengumumkan secara terbuka wabah baru dan memulai kampanye vaksinasi publik, justru memilih melakukan kampanye vaksinasi rahasia. Vaksin rahasia ini direncanakan akan mulai pada  hari Senin di Rawalpindi dan kota-kota sekitarnya dalam upaya penahanan.

Hanya anggota senior dari program polio yang sadar akan kampanye P2. Sedangkan anggota lain yang akan memberikan vaksin hanya mengetahui itu dilakukan untuk program vaksinasi polio P1 dan P3 standar.

"Wabah P2 ini hanya dapat diatasi jika mereka melakukan kampanye vaksinasi yang berkualitas, dan bagaimana Anda dapat melakukan kampanye yang berkualitas jika Anda melakukannya secara rahasia, tanpa kesadaran atau akuntabilitas?" kata sumber itu.

Sejak tahun 2018, telah terjadi peningkatan yang mengkhawatirkan dalam kasus polio di Pakistan, dengan 77 kasus resmi tahun ini. Senator yang menjabat sebagai perwakilan perdana menteri dalam pemberantasan polio dari November 2013 hingga Agustus 2018 Ayesha Raza Farooq mengatakan, Bin Atta telah merusak program vaksin melalui korupsi dan salah urus.

Farooq menuduh Perdana Menteri Pakistan Imran Khan menolak untuk mendengarkan keluhan terhadap Bin Atta selama 10 bulan terakhir. "Mereka menutupi penolakan dan mereka diduga menggunakan tanda palsu pada anak-anak untuk menunjukkan mereka divaksinasi yang sebenarnya bukan. Kerusakan yang telah terjadi pada program telah benar-benar membalikkan banyak pencapaian kami," ujarnya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA