Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Temukan Ladang Baru, Cadangan Minyak Iran Meningkat

Senin 11 Nov 2019 05:11 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Gita Amanda

Kilang minyak Iran.

Kilang minyak Iran.

Foto: Reuters
Diperkirakan, temuan itu akan meningkatkan persedian minyak Iran hingga sepertiganya.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Iran berhasil menemukan ladang minyak baru yang mengandung lebih dari 50 miliar barel minyak mentah. Diperkirakan, temuan itu akan meningkatkan persedian minyak Iran hingga sepertiganya.

Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan, ladang minyak itu berlokasi di wilayah selatan atau tepatnya di Provinsi Khuzestan. Tepat di lokasi industri minyak Iran.

Ladang minyak baru itu, ujar Rouhani, mengandung 53 miliar barel minyak mentah. Adapaun cadangan minyak mentah Iran saat ini mencapai 150 miliar barel.

Pengumuman atas penemuan ladang baru ini dilakukan Iran ditengah negara itu sedang menghadapi sanksi dari Amerika Serikat (AS). Hal ini terjadi usai Negeri Paman Sam keluar dari perjanjian nuklir bersama dengan Iran dan negara berkuasa lainnya.

"Saya memberi tahu Gedung Putih bahwa pada hari-hari ketika Anda memberi sanksi terhadap penjualan minyak Iran dan menekan negara kami, para pekerja dan insinyur yang baik di negara ini dapat menemukan 53 miliar barel minyak di lahan yang luas," kata Rouhani, seperti dikutip dari AP, Ahad (11/11).

Ladang minyak baru itu, ujar Rouhani, berada di lahan seluas 2.400 kilometer persegi dan dengan kedalaman sekitar 80 meter. Ladang ini akan jadi yang terbesar kedua di Iran setelah ladang di Ahvas dengan cadangan sebesar 65 milair barel.

Iran saat ini adalah negara dengan cadangan minyak terbesar keempat di dunia dan terbesar kedua untuk cadangan gas alam.

Namun, Iran saat ini kesulitan menjual minyaknya di tengah sanksi AS. Sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015, negara-negara lain yang terlibat yakni Jerman, Prancis, Inggris, Rusia, dan China, terus berjuang untuk menyelamatkan kesepakatan itu. Namun, negara-negara itu juga tidak menawarkan cara agar Iran bisa menjual minyaknya di luar negeri.

Perusahaan atau pemerintah mana pun yang membeli minyak Iran, maka akan menghadapi sanksi keras AS. Ancaman itu telah menghentikan transaksi bisnis Iran hingga miliaran dolar dan mendepresi tajam mata uang Iran, rial.

Iran dilaporkan saat ini telah melampaui batas persediaan dan pengayaan uranium sesuai kesepakatan 2015. Iran juga sudah mulai menggunakan sentrifugal canggih yang dilarang oleh kesepakatan. Selain itu, Iran dilaporkan juga mulai menyuntikkan gas uranium ke sentrifugal di fasilitas bawah tanah.


Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA