Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Raja Yordania Kunjungi Perbatasan dengan Israel

Selasa 12 Nov 2019 07:35 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ani Nursalikah

Raja Yordania Abdullah II (ketiga dari kanan) shalat saat mengunjungi wilayah perbatasan dengan Israel, Baqura, bersama Putra Mahkota Pangeran Hussein (keempat dari kanan) dan petugas militer, Senin (11/11).

Raja Yordania Abdullah II (ketiga dari kanan) shalat saat mengunjungi wilayah perbatasan dengan Israel, Baqura, bersama Putra Mahkota Pangeran Hussein (keempat dari kanan) dan petugas militer, Senin (11/11).

Foto: Yousef Allan/Jordanian Royal Court via AP
Raja Abdullah II tak memperbarui perjanjian dengan Israel terkait dua wilayah.

REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN -- Raja Yordania Abdullah II melakukan kunjungan pertamanya ke daerah pinggiran perbatasan utara Yordania dengan Israel, Senin (11/11). Kunjungan ini bertepatan dengan sehari setelah berakhirnya perjanjian khusus 25 tahun yang memungkinkan petani Israel mengakses daerah itu.

Sehari sebelum kunjungan itu, Raja mengumumkan di parlemen Yordania memberlakukan kedaulatan penuh pada setiap inci wilayah yang dikelilingi wilayah negara lain. Keputusan ini sudah dinyatakan pada 2018, ketika Yordania mengatakan tidak ingin memperbarui perjanjian dengan Israel.

Di bawah perjanjian perdamaian enklave Yordania-Israel 1994, bagian yang terdiri dari dua wilayah melintasi perbatasan, diakui berada di bawah kedaulatan Yordania. Namun, melalui ketentuan khusus memungkinkan para petani Israel bekerja di tanah itu tanpa visa.

Tapi, para pejabat pemerintahan mengatakan, keputusan Raja Abdullah untuk mengakhiri pengaturan mencerminkan kemarahannya pada penolakan Israel terhadap Palestina di Tepi Barat. Dinasti Hashemite adalah penjaga situs-situs suci Muslim di kota, sedangkan Israel menduduki salah satu situs paling suci Islam di Yerusalem.

Menteri Luar Negeri Jordan Ayman Safadi mengatakan, negaranya tetap berkomitmen pada perjanjian perdamaian dan baru membatasi perbatasan untuk pertama kalinya sejak pembentukan Israel pada 1948. "Kami adalah negara yang menghargai komitmennya terhadap perjanjian perdamaian, yang harus kami patuhi sepenuhnya," kata Safadi.

Namun, banyak warga Yordania yang menentang hubungan normal dengan Israel dan telah meminta pemerintah untuk membatalkan perjanjian damai. Banyak warga di Yordania berasal dari Palestina.

Safadi mengatakan, Yordania akan terus menghormati kepemilikan pribadi oleh orang Israel di Baqoura atau orang Israel menyebut wilayah itu Naharayim. Namun, setiap orang Israel yang memiliki properti di Baquora sekarang perlu mendapatkan visa untuk masuk ke Yordania dan propertinya akan diatur oleh hukum Yordania yang berlaku untuk orang asing.

Di wilayah lain, yang dikenal sebagai al Ghumar di Yordania dan oleh Israel disebut Tzofar, petani Israel telah menanam dan berinvestasi di agroindustri meskipun mereka belum memiliki hak kepemilikan. Safadi mengatakan, Kerajaan akan mengizinkan para petani ini memanen hasil panen terakhir sebelum mengakhiri kegiatan di sana.

Yordania adalah satu dari dua negara Arab yang melakukan perjanjian damai dengan Israel. Banyak warga Yordania memandang pengaturan itu sebagai pendudukan Israel terhadap negara mereka.

Dalam ketentuan yang telah dibuat, perjanjian akan secara otomatis diperbarui, kecuali setahun sebelum perjanjian berakhir, salah satu pihak memberi tahu pihak lain ingin mengakhiri perjanjian. Melalui keputusan Raja Abdullah yang menyatakan menolak memperbarui, terlihat sebagai tanda hubungan bilateral yang semakin tegang dengan Israel.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA