Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Setiap 39 Detik, 1 Bayi atau Anak Meninggal karena Pneumonia

Rabu 13 Nov 2019 06:45 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani / Red: Endro Yuwanto

UNICEF (ilustrasi)

UNICEF (ilustrasi)

Foto: unicef.bg
Lebih dari setengah populasi anak di sejumlah negara meninggal karena pneumonia.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON —- Penyakit pneumonia membuat lebih dari 800 ribu bayi dan anak kecil pada tahun lalu atau satu anak setiap 39 detik meninggal dunia. Meski begitu, penyakit ini bisa disembuhkan dan sebagian besar dapat dicegah.

Dalam sebuah laporan, Badan Dana Anak-Anak PBB (UNICEF), Badan Amal Internasional Save The Children, dan empat lembaga kesehatan lainnya, mendesak pemerintah untuk meningkatkan investasi dalam vaksin. Fungsinya untuk mencegah penyakit dan pelayanan kesehatan serta obat-obatan.

“Fakta bahwa penyakit dapat dicegah, diobati, dan mudah didiagnosis ini masih merupakan pembunuh anak-anak terbesar di dunia, sungguh mengejutkan,” kata kepala eksekutif aliansi vaksin GAVI, Seth Berkley seperti yang dilansir dari Reuters, Rabu (13/11).

Pneumonia adalah penyakit paru-paru yang bisa disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur. Para pasien harus berjuang bernafas karena paru-parunya penuh dengan nanah dan cairan. Ini dapat dicegah dengan vaksin dan diobati dengan antibiotik dan oksigen. Namun, di negara-negara miskin, akses ke sana seringkali terbatas.

Di Nigeria, India, Pakistan, Republik Demokratik Kongo, dan Ethiopia, lebih dari setengah populasi anak meninggal karena pneumonia tahun lalu. Kebanyakan dari mereka adalah bayi yang belum mencapai ulang tahun kedua.

Kepala Eksekutif Save the Children, Kevin Watkins mengatakan, jutaan anak sekarat karena kekurangan vaksin, antibiotik yang terjangkau, dan perawatan oksigen rutin. “Ini adalah epidemi global yang terlupakan dan menuntut respons internasional yang mendesak,” kata Watkins.

Laporan itu menyebutkan, pneumonia menyebabkan 15 persen kematian pada anak di bawah lima tahun. Namun, hanya tiga persen dari pengeluaran untuk penelitian penyakit menular, jauh tertinggal dari penyakit lain seperti malaria.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA