Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Aktivis Uighur: Cina Jalankan Ratusan Kamp Penahanan

Rabu 13 Nov 2019 09:11 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Ani Nursalikah

Pagar penjagaan di kamp penahanan, yang secara resmi disebut pusat pendidikan keterampilan di Xinjiang untuk Muslim Uighur.

Pagar penjagaan di kamp penahanan, yang secara resmi disebut pusat pendidikan keterampilan di Xinjiang untuk Muslim Uighur.

Foto: Reuters/Thomas Peter
Jumlah warga Uighur yang ditahan China diperkirakan mencapai tiga juta orang.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Para aktivis Uighur dari The East Turkistan National Awakening Movement mengatakan mendokumentasikan hampir 500 kamp dan penjara yang dijalankan China untuk menahan etnis Uighur. Para aktivis menilai Cina bisa menahan jauh lebih banyak orang-orang daripada angka satu juta orang yang sempat diberitakan sebelumnya.

The East Turkistan National Awakening Movement merupakan sebuah kelompok yang berbasis di Washington yang mencari kemerdekaan bagi sebagian besar wilayah Muslim di Xinjiang, China. Kelompok itu mengatakan mendeteksi gambar-gambar dari Google Earth dan menemukan 182 kamp konsentrasi yang terdaftar dengan koordinat.

Kelompok itu mengatakan mencocokkan temuannya dengan informasi di lapangan. Mereka juga menemukan 209 penjara dan 74 kamp kerja paksa.

"Sebagian besar, ini belum diidentifikasikan sebelumnya, jadi kami bisa berbicara tentang jumlah yang jauh lebih besar dari orang yang ditahan," ujar Direktur The East Turkistan National Awakening Movement, Kyle Olbert dikutip laman Aljazirah, Rabu (13/11).

"Jika ada, kami khawatir mungkin ada lebih banyak fasilitas yang belum dapat kami identifikasi," katanya dalam konferensi pers di Washington.

Olbert menilai kebijakan China itu sebagai bentuk genosida. Ia khawatir warga Uighur akan ditahan tanpa batas waktu.

Baca Juga

photo
Sebuah pengumuman menunjukan gambar anggota keluarga Uighur yang hilang di China.

"Ini seperti merebus katak. Jika mereka membunuh 10 ribu orang sehari, dunia mungkin memperhatikan," katanya.

"Tetapi jika mereka hanya memenjarakan semua orang dan membiarkan mereka mati secara alami, mungkin dunia tidak menyadarinya. Saya pikir itulah yang sedang China lakukan," ujarnya.

Analis yang sebelumnya bekerja di intelijen Amerika Serikat (AS) Andress Corr menilai sekitar 40 persen dari bangunan tersebut belum pernah dilaporkan sebelumnya. Para pembela HAM umumnya memperkirakan China menahan lebih dari satu juta warga etnis Uighur dan anggota etnis Turki yang mayoritas beragama Islam.

Namun, pejabat tinggi Pentagon untuk Asia, Randall Schriver mengatakan pada Mei angka itu kemungkinan lebih dekat dengan tiga juta warga, jumlah yang luar biasa di wilayah berpenduduk 10 juta orang. Aktivis dan saksi mata mengatakan, China melakukan penyiksaan untuk secara paksa mengintegrasikan orang-orang etnis Uighur ke dalam mayoritas Han. Paksaan itu termasuk menekan kaum Muslim meninggalkan ajaran agama mereka, seperti shalat dan tidak makan daging babi dan alkohol.

China  membenarkan kebijakannya setelah awalnya menyangkal adanya kamp-kamp tersebut. Pemerintahnya mengatakan memberikan pelatihan kejuruan dan membujuk umat Islam menjauh dari ekstremisme.

Ratusan orang tewas dalam kerusuhan 2009 di ibu kota Xinjiang, Urumqi, yang sebagian besar menargetkan warga China beretnis Han. AS menyamakan perlakuan China terhadap Uighur dengan kamp-kamp konsentrasi Jerman Nazi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA