Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

AS Pertahankan 600 Pasukan di Suriah

Kamis 14 Nov 2019 13:47 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Ani Nursalikah

Kendaraan militer AS tiba di dekat Dahuk, Irak, Senin (21/10). Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan pasukan AS ditarik dari Suriah dan tiba di Irak untuk membantu memerangi ISIS.

Kendaraan militer AS tiba di dekat Dahuk, Irak, Senin (21/10). Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan pasukan AS ditarik dari Suriah dan tiba di Irak untuk membantu memerangi ISIS.

Foto: AP Photo
Pasukan AS diinstruksikan mengamankan ladang minyak Suriah.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Mark Esper mengatakan AS akan tetap menempatkan 600 pasukan di Suriah. Padahal, Presiden AS Donald Trump ingin mengakhiri keterlibatan AS dalam perang yang ia sebut perang tiada akhir.

"Kami masih mengeluarkan pasukan dari utara Suriah, kami akan memiliki sekitar 500 sampai 600 pasukan di sana," kata Esper dalam perjalanan ke Seoul seperti dilansir dari Aljazirah, Kamis (14/11).

Ia tidak menjawab apakah angka tersebut termasuk 200 pasukan yang ditugaskan di pangkalan Al-Tanf yang terletak di perbatasan dengan Irak dan Yordania di sebelah selatan. Esper mengatakan ia hanya menyebutkan pasukan yang berada di utara Suriah.

Sesuai dengan instruksi Trump kepada Pentagon untuk mengamankan ladang minyak di sana. Lalu ia menegaskan kembali akan ada sekitar 600 pasukan AS di seluruh penjuru Suriah. 

Esper menambahkan jumlahnya masih dapat fluktuatif, terutama jika sekutu Eropa mereka ikut bergabung di Suriah. "Hal berubah, peristiwa di lapangan berubah, misalnya, rekan dan sekutu dari Eropa bergabung dengan kami, jika mereka bergabung di lapangan maka membuat kami dapat menarik melanjutkan penarikan pasukan dari sana," ujar Esper.

Pada bulan lalu, Trump mengatakan ia memerintahkan untuk menarik seluruh pasukan AS dari Suriah. Langkah yang membuat banyak pihak baik dari dalam maupun luar AS marah. Kritikus mengatakan hal itu dapat membangkitkan ISIS serta membuat pasukan Kurdi yang menjadi sekutu AS dalam memerangi ISIS rentan terhadap serangan Turki.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA