Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Trump dan Erdogan Bahas Pembelian Sistem Rudal Rusia

Kamis 14 Nov 2019 16:38 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Presiden AS Donald Trump berjabat tangan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan usai konferensi pers di East Room Gedung Putih, Washington, Rabu (13/11).

Presiden AS Donald Trump berjabat tangan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan usai konferensi pers di East Room Gedung Putih, Washington, Rabu (13/11).

Foto: AP Photo/ Evan Vucci
Pertemuan Trump dan Erdogan tidak menghasilkan terobosan untuk masalah rudal Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengharapkan Turki dapat menyelesaikan sengketa pembelian sistem pertahanan rudal Rusia S-400. Trump mengatakan, pembelian itu adalah tantangan yang sangat serius bagi AS.

Baca Juga

Setelah pertemuan di Gedung Putih untuk mengatasi krisis dalam hubungan AS dan Turki, Trump mengatakan dia adalah "penggemar berat" Recep Tayyip Erdogan. Menurutnya, dia dan Erdogan bertemu dalam suasana "indah dan produktif".

Kendati demikian, keduanya tidak mengungkapkan terobosan besar mulai dari Suriah ke sistem pertahanan Rusia yang dikenal sebagai S-400. Sambutan hangat Trump untuk Erdogan, bagaimanapun, adalah kontras tajam dengan kemarahan di Kongres AS atas serangan Ankara ke Suriah untuk mengusir milisi Kurdi, mitra utama Washington dalam perang melawan ISIS. Trump mengajak lima senator Republik ke Gedung Putih untuk berbicara dengan Erdogan tentang Kurdi Suriah serta pengiriman S-400. 

Pembelian S-400 Rusia oleh Turki mendorong Washington untuk memindahkan Turki dari program jet tempur F-35, di mana Ankara adalah produsen dan pembeli. "Akuisisi Turki atas peralatan militer Rusia yang canggih, seperti S-400, menciptakan beberapa tantangan yang sangat serius bagi kami dan kami terus membicarakannya," kata Trump dalam konferensi pers bersama seperti dilansir Al Arabiya, Kamis (14/11).

"Kami membicarakannya hari ini, kami akan membicarakannya di masa depan, semoga kami dapat menyelesaikan situasi itu," Trump menambahkan. Beberapa menit setelah konferensi pers kedua pemimpin, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan menggunakan bahasa yang lebih tegas.  

"Untuk mencapai kemajuan di bidang lain, sangat penting bagi kami untuk menyelesaikan masalah yang melibatkan pembelian sistem pertahanan udara Rusia S-400 oleh Turki, yang memperkuat kemitraan pertahanan kami," kata pernyataan Gedung Putih.

Turki dan AS berselisih soal pembelian sistem S-400. Sebab, menurut AS hal itu tidak kompatibel dengan pertahanan NATO dan menimbulkan ancaman bagi jet tempur 'stealth' Lockheed Martin F-35.

Meski demikian, Turki mengabaikan ancaman sanksi AS dan mulai menerima pengiriman S-400 pertamanya pada Juli. AS pun menjatuhkan sanksi ke Turki dengan melarang penjualan F-35 dan memindahkan negara itu dari program multinasional untuk memproduksi pesawat perang.

"Kami telah meminta menteri luar negeri kami serta penasihat keamanan nasional kami masing-masing untuk segera bekerja menyelesaikan masalah S-400," kata Trump.

Sementara Edogan mengatakan, bahwa kedua negara hanya bisa mengatasi perselisihan mereka tentang S-400 dan F-35 melalui dialog. "Kami telah sepakat untuk membuka halaman baru dalam hubungan kami," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA