Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Polusi Udara Ancam Jutaan Orang Saat Krisis Iklim Memburuk

Jumat 15 Nov 2019 00:50 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Indira Rezkisari

Warga India dan turis mengenakan masker untuk menghalau polusi udara saat berjalan di New Delhi, India, Senin (4/11).

Warga India dan turis mengenakan masker untuk menghalau polusi udara saat berjalan di New Delhi, India, Senin (4/11).

Foto: AP
Penanganan polusi udara harus jadi perhatian serius demi kehidupan jutaan orang.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Studi baru dari Lancet Countdown mencatat perubahan iklim tak hanya berdampak di negara berkembang saja, namun juga merambah ke negara-negara kaya. Studi meneliti dampak perubahan iklim terhadap kesehatan manusia.

Tingkat polusi udara yang sangat tinggi berkontribusi terhadap 7 juta kematian secara global pada 2016. Kondisi hanya akan bertambah buruk ketika dunia menjadi lebih panas.  

"Menangani polusi udara di seluruh dunia adalah hal terpenting yang harus kita pertimbangkan dari sudut pandang kesehatan masyarakat untuk menyelamatkan jiwa," kata Direktur Eksekutif Lancet Countdown, Nicholas Watts seperti dikutip laman Financial Times, Kamis (24/12).

Lancet Countdown merupakan sebuah kolaborasi antara 30 lembaga termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Bank Dunia dan Jurnal medis Lancet. "Perubahan iklim itu sendiri akan membuat polusi udara semakin buruk," kata profesor pemodelan sistem atmosfer dan bumi di University of Reading, William Collins. Menurutnya, kebijakan mitigasi iklim akan memiliki efek kesehatan.

Perubahan iklim memperburuk polusi udara dengan menjebak partikel berbahaya di daerah padat penduduk. Polusi juga cenderung “tersapu” keluar dari atmosfer di udara kering, lebih panas dan lebih tenang.

Di India, polusi udara menjadi masalah yang sangat buruk. Di mana pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi yang cepat, tetapi tetap bergantung pada sumber daya yang kotor. Kepala menteri New Delhi, Arvind Kejriwal mengatakan, bahwa ibu kota negara itu telah berubah menjadi kamar gas karena asap dari pembakaran tanaman di negara-negara tetangga.  

Studi Lancet memilih partikel kecil yang dikenal sebagai partikel (PM2.5), yang dapat menembus paru-paru dan aliran darah yang menyebabkan penyakit kardiovaskular dan pernapasan yang serius (satu-satunya polutan udara paling berbahaya). Materi partikulat dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, produksi industri, transportasi dan pemanasan dan memasak rumah tangga.  

WHO mengatakan, tidak ada tingkat paparan yang aman ke PM2.5. Penelitian Lancet mencatat dari 3.500 kota di luar Eropa dengan populasi lebih dari 100 ribu, 83 persen memiliki tingkat di atas batas paparan tahunan dari yang direkomendasikan WHO. PM2.5 sendiri berkontribusi terhadap 2,9 juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2016.  

Menurut profesor ekonomi lingkungan di University of Reading Elizabeth Robinson, polusi udara adalah salah satu ancaman terbesar yang dihadapi umat manusia.

Sementara China, yang telah berkembang pesat selama 30 tahun terakhir, telah mengalami kabut asap yang mengerikan dalam beberapa tahun terakhir. China juga telah mengambil langkah signifikan untuk membersihkan udara. Situasi di banyak kota Cina telah membaik sebagai hasil dari upaya pengendalian emisi yang ambisius.

Di negara berkembang lain, membuat perubahan kebijakan yang efektif dengan cepat dinilai lebih sulit. Di Afrika, misalnya, memasak dengan kompor tradisional adalah penyebab utama PM2.5.  

Di Eropa dan Amerika Serikat (AS), tingkat PM2.5 perlahan-lahan menurun karena pembangkit listrik tenaga batubara dihapus. Namun, menurut laporan, jika PM2.5 tetap di level 2016 selama 100 tahun lagi, umur rata-rata orang Eropa kemungkinan akan terpotong 5.7 bulan. Dampaknya akan paling parah di Hongaria, Rumania dan Polandia, di mana nyawa akan diperpendek lebih dari delapan bulan, karena negara-negara itu membakar lebih banyak batubara daripada negara-negara Eropa lainnya.  

Risiko kesehatan lainnya yang disebabkan oleh perubahan iklim termasuk penyebaran demam berdarah, penyakit yang disebabkan oleh paparan gelombang panas dan polusi udara yang memburuk akibat kebakaran hutan. Tanggapan lambat dari pembuat kebijakan telah berkontribusi pada kesenjangan adaptasi. Gagal mengatasi perubahan iklim bisa menelan biaya banyak dalam setahun pada tahun 2100, jika dunia dihangatkan oleh 4 derajat celsius.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA