Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Taliban Sakit Hati Setelah Rencana Pertukaran Sandera Batal

Sabtu 16 Nov 2019 05:13 WIB

Red: Nur Aini

Milisi Taliban (ilustrasi)

Milisi Taliban (ilustrasi)

Foto: english.alarabiya.net
Alasan pertukaran dua sandera dengan tiga anggota Taliban ditunda belum diungkap.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Rencana pertukaran dua sandera dari negara Barat dengan tiga anggota Taliban yang dipenjara ditunda. Hal itu dikatakan seorang pejabat pemerintah Afghanistan pada Jumat (15/11).

Baca Juga

Sumber-sumber di kalangan Taliban mengatakan kelompok itu telah memindahkan kedua warga asing tersebut ke sebuah "tempat yang baru dan aman". Sebelumnya pada Selasa (12/11), Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengatakan pemerintah akan membebaskan seorang pemimpin faksi militan Taliban Haqqani dan dua komandan lainnya untuk ditukar dengan dua dosen universitas, yaitu warga Amerika Serikat Kevin King dan warga Australia Timothy Weeks.

Kesepakatan itu dilihat pemerintah Afghanistan sebagai langkah utama dalam mengupayakan perundingan langsung dengan Taliban. Namun, kelompok gerilyawan itu hingga kini tidak mau berhubungan dengan pemerintah Afghanistan, yang mereka sebut sebagai rezim "boneka" tidak sah di Kabul.

Seorang diplomat mengatakan di Washington pada Rabu (13/11) bahwa pertukaran tahanan itu tidak akan terjadi. Seorang pejabat pemerintah Afghanistan mengatakan kepada Reuters, Jumat, bahwa pertukaran ditunda tetapi ia tidak memberikan keterangan lebih rinci.

Tiga sumber di kubu Taliban, termasuk seorang anggota kerabat tahanan Anas Haqqani, saudara pemimpin jaringan Haqqani, mengatakan komandan-komandan itu direncanakan diterbangkan ke Qatar untuk dibebaskan. Namun ternyata dibawa kembali ke penjara di Bagram di luar Ibu Kota Afghanistan, Kabul.

"Kami berbicara dengan mereka setelah mereka diberi pakaian baru dan dibawa keluar dari penjara Bagram," kata kerabat tersebut.

"Mereka dikatakan sedang dibawa dengan pesawat dan kami memperkirakan bahwa mereka akan mendarat di Doha dan ketika dalam beberapa jam pendaratan itu tidak terjadi, kami jadi curiga."

Sumber-sumber itu mengatakan bahwa mereka mendengar kabar, soal para tahanan itu dibawa kembali ke Bagram, dari para tahanan Taliban di penjara serta anggota pasukan keamanan Afghanistan. Pembatalan itu membuat Taliban "tercengang dan sakit hati", kata salah satu sumber yang mengetahui perincian pertukaran tahanan.

"Kesepakatannya adalah, kami akan membebaskan mereka setelah tahanan-tahanan kami mendarat di Qatar," kata sumber ketiga yang mengetahui rencana pertukaran tahanan.

Sumber-sumber di kalangan Tailban mengatakan mereka tidak punya informasi soal mengapa para tahanan itu belum diterbangkan ke Doha.

Juru bicara pemerintah Afghanistan dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kabul belum bisa dihubungi untuk dimintai keterangan. Pemerintah Australia mengatakan pada Selasa bahwa pihaknya tidak akan memberikan komentar terus-menerus mengenai upaya untuk membebaskan Weeks.

King dan Weeks diculik pada Agustus 2016 di luar kompleks American University of Afghanistan di Kabul, tempat mereka bekerja sebagai dosen. Mereka muncul satu tahun kemudian dalam video penyanderaan. Dengan penampilan yang terlihat acak-acakan, dalam video itu mereka meminta Presiden AS Donald Trump agar mengupayakan pembebasan mereka.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA