Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Cina Kerahkan Kapal Induk ke Selat Taiwan

Ahad 17 Nov 2019 18:33 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Kapal induk China (ilustrasi).

Kapal induk China (ilustrasi).

Foto: CCTV News
Aksi China kerahkan kapal induk diyakini sebagai respons diangkatnya William Lai.

REPUBLIKA.CO.ID, TAIPEI -- China mengerahkan sejumlah kapal induk ke Selat Taiwan pada Ahad (17/11). Aksi tersebut diyakini berpotensi meningkatan ketegangan antara Beijiing dan Taipei.

Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan, pelayaran kapal induk itu dilakukan hanya beberapa jam setelah Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menunjuk pendampingnya dalam pilpres pada 2020 mendatang, yakni Willliam Lai.

Baca Juga

Dia adalah mantan perdana menteri yang sempat membuat China geram karena mendukung kemerdekaan Taiwan.

Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu mengatakan, China memang hendak mengintervensi jalannya pilpres di negaranya. Pengerahan kapal-kapal induk dinilai merupakan aksi geretak.

"Para pemilih tidak akan terintimidasi. Mereka akan mengatakan tidak kepada China di kota suara," kata dia, dikutip laman the Straits Times.

Kementerian Pertahanan China belum memberikan komentar atau keterangan tentang hal tersebut. Sewaktu menjadi perdana menteri, William Lai mengatakan pada parlemen bahwa dia adalah pekerja kemerdekaan Taiwan. Menurut dia Taiwan adalah negara yang berdaulat dan mendiri.

Tabloid Global Times yang didukung Pemerintah Cina segera merespons pernyataan Lai. Mereka mengatakan bahwa Pemerintah Cina harus segera mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional baginya guna menghadapi penuntutan berdasarkan  2005 Anti-Secession Law.

Saat ditunjuk Tsai Ing-wen sebagai pendampingnya, Lai tak menyebut-nyebut soal kemerdekaan. Namun dia mengatakan Taiwan harus menghadapi tekanan Cina dan menunjukkan jalan bagi Hong Kong yang selama lima bulan terakhir dilanda demonstrasi antipemerintah.

Cina telah menyatakan penyelesaian masalah Taiwan adalah kepentingan nasional terbesarnya. “Cina adalah satu-satunya negara besar di dunia yang belum sepenuhnya dipersatukan kembali,” ujar Menteri Pertahanan Cina Wei Fenghe saat berbicara di pembukaan Xiangshan Forum di Beijing pada 20 Oktober lalu.

Dia mengatakan penyatuan atau reunifikasi Cina dan Taiwan adalah kepentingan nasional terbesar Cina. Wei menyatakan, tak ada pihak yang dapat mencegah negaranya melakukan hal tersebut.

“Tidak seorang pun dan tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan reunifkasi utuh Cina. Kami berkomitmen untuk mempromosikan pengembangan damai hubungan selat lintas-Taiwan dan penyatuan kembali negara secara damai,” ucap Wei.

Wei pun menyinggung gerakan separatis di Taiwan. “Kami tidak akan pernah membiarkan separatis untuk kemerdekaan Taiwan memiliki jalan mereka sendiri atau membiarkan intervensi oleh kekuatan eksternal. Memajukan reunifikasi adalah alasan yang adil, sementara aktivitas separatis akan gagal,” kata Wei.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA