Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Garda Revolusi Iran Peringatkan Pengunjuk Rasa

Selasa 19 Nov 2019 06:22 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Sejumlah pengendara memarkir kendaraan mereka di tengah jalan sebagai bentuk protes kenaikan harga BBM di Isfahan, Iran, Sabtu (16/11).

Sejumlah pengendara memarkir kendaraan mereka di tengah jalan sebagai bentuk protes kenaikan harga BBM di Isfahan, Iran, Sabtu (16/11).

Foto: AP Photo
Garda Revolusi Iran mengancam akan menindak keras pengunjuk rasa.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Garda Revolusi Iran memperingatkan pengunjuk rasa anti-pemerintah. Mereka akan melakukan tindakan 'tegas' bila kerusuhan atas naiknya harga bahan bakar tidak juga mereda. Hal ini menandakan kekuatan militer Iran itu siap menggelar tindakan keras terhadap demonstran.

Baca Juga

"Jika dibutuhkan kami akan mengambil tindakan tegas dan revolusioner terhadap gerakan yang terus berlanjut dalam mengganggu kedamaian dan keamanan rakyat," kata Garda Revolusi Iran, dalam pernyataan mereka yang disampai media pemerintah, Senin (18/11).

Peringatan tersebut menuai berbagai kecaman salah satu dari Jerman. Negara Eropa itu meminta pemerintah Iran menghargai hak pengunjuk rasa untuk menyampaikan aspirasi.

"Merupakan hal yang sah dan patut kami hormati ketika rakyat yang berani menyerukan keluhan ekonomi dan politik mereka, seperti yang saat ini terjadi di Iran," kata Ulrike Demmer, juru bicara Kanselir Jerman Angela Merkel seperti dilansir dari Deutsche Welle.

Media Iran melaporkan unjuk rasa yang dimulai pada Jumat (15/11) lalu sudah menyebar ke seluruh penjuru Iran. Para pengunjuk rasa meminta pemimpin-pemimpin pemerintah yang berasal dari tokoh agama untuk turun. Kantor berita semi-resmi Fars yang dekat dengan Garda Revolusi melaporkan setidaknya ada 100 bank dan puluhan gedung serta mobil terbakar.

"Pemerintah Iran harus merespons protes saat ini dengan niatan untuk mengajak dialog, kami meminta pemerintah di Teheran menghargai kebebasan berkumpul dan berekspresi," kata Demmer.

Belum diketahui skala kerusuhan yang dipicu pengumuman pembatasan dan kenaikan harga bahan bakar sebesar 50 persen. Pihak berwenang membatasi akses internet agar media sosial tidak dapat digunakan untuk mengatur unjuk rasa dan menyebarkan video.

Namun, tampaknya gejolak kali ini lebih serius dibandingkan kerusuhan pada 2017 lalu, di mana ada 22 orang dilaporkan tewas dalam unjuk rasa di puluhan kota. Demonstrasi dua tahun lalu dipicu buruknya standar hidup dan tuntutan agar sejumlah petinggi muslim Syiah untuk mundur.

Pemerintahan Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan kenaikan harga bahan bakar bertujuan untuk meningkatkan subsidi keluarga berpenghasilan rendah menjadi sekitar 2,55 miliar pertahan. Kebijakan itu untuk 18 juta keluarga berpenghasilan rendah di Iran.

Tapi banyak warga kelas menengah Iran yang marah dan putus asa terhadap sanksi Amerika Serikat (AS). Hal itu membuat rakyat Iran meminta janji pemerintah yang mengatakan akan menambah lapangan pekerjaan dan investasi. Pihak berwenang pun ingin segera mengakhiri kerusuhan.

Garda Revolusi Iran dilengkapi persenjataan berat. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyalahkan musuh-musuh Iran dan negara asing. Ia juga mengecam pengunjuk rasa yang merusak properti publik sebagai 'preman' dan 'berandalan'.

Beberapa warga Iran berhasil mengunggah video ke media sosial yang memperlihat polisi menembakan gas air mata untuk membubarkan massa. Gambar tersebut belum dapat diverifikasi. Pihak berwenang mengatakan ada satu petugas polisi dan seorang warga sipil yang tewas. Polisi juga menangkap 1.000 orang 'perusuh'.

"Perusuh menggunakan pisau dan senjata api, sejumlah petugas keamanan dan kepolisian terbunuh atau disandera," kata juru bicara pemerintah Iran Ali Rabiei dalam konferensi pers yang disiarkan televisi.  

Rabiei juga mengatakan pemerintah akan segera menghentikan pemblokiran akses internet. Ia juga memperkirakan pengunjuk rasa yang turun ke jalan turun 80 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Kelompok yang mengawasi akses internet di seluruh dunia NetBlocks mengatakan koneksi internet hanya turun 7 persen dari level biasanya. Mereka menyebutnya pemblokiran di Iran yang paling parah 'dalam hal kerumitan teknis dan luasnya'.

Perusahaan internet Oracle menyebutnya 'penutupan internet terbesar yang pernah terlihat di Iran sebelumnya'. Beberapa situs berita lokal seperti kantor berita pemerintah masih dapat diakses. Tapi jendela Iran untuk melihat dunia luar sebagian besar ditutup.

Warga Iran yang sudah kesusahan semakin dipersulit lagi setelah Presiden AS Donald Trump menaik AS dari kesepakatan nuklir Iran atau JCPOA tahun lalu. Trump memberlakukan kembali sanksi-sanksi terhadap Iran yang sempat dicabut sesuai dengan perjanjian tersebut.

Sejak Washington memberlakukan 'tekanan maksimal' terhadap Iran. Mata uang mereka terus terdevaluasi. Harga-harga kebutuhan sehari-hari seperti roti, beras dan makanan pokok lainnya naik.  

Banyak pihak yang menilai harga minyak murah di Iran yang kaya minyak sebagai hak. Kenaikan harga bahan bakar dikhawatirkan dapat menambah beban biaya hidup. Walaupun pemerintah menjamin naiknya pendapatan akan dialihkan untuk membantu keluarga yang membutuhkan.

sumber : Reuters/AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA