Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

Pejabat Gedung Putih akan Jadi Saksi Penyelidikan Pemakzulan

Rabu 20 Nov 2019 05:04 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Presiden AS Donald Trump (kiri) akan menghadapi penyelidikan pemakzulan.

Presiden AS Donald Trump (kiri) akan menghadapi penyelidikan pemakzulan.

Foto: AP Photo/Pablo Martinez Monsivais
Dua pembantu presiden AS akan bersaksi dalam pertemuan terbuka pemakzulan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Dua pembantu presiden Amerika Serikat (AS) di bidang keamanan akan kembali bersaksi dalam pertemuan terbuka penyelidikan pemakzulan Donald Trump. Kesaksian mereka dinilai akan perkuat kesaksian-kesaksian sebelumnya.

Baca Juga

Mantan perwira Dewan Keamanan Nasional (NSC) Letnan Kolonel Alexander Vindman dan rekannya dari kantor Wakil Presiden Mike Pence, Jeniffer Williams akan memberikan kesaksian dihadapan anggota House of Representative, Selasa (19/11). Mereka ikut mendengarkan pembicaraan Donald Trump dengan presiden Ukraina.

Keduanya mengatakan mereka khawatir dengan pembicaraan 25 Juli tersebut. Dalam sambungan telepon itu, Trump meminta Volodymyr Zelenski untuk menyelidiki mantan Wakil Presiden AS Joe Biden yang kini mencalonkan diri sebagai presiden dari Partai Demokrat.

Sembilan pejabat dan mantan pejabat pemerintah AS bersaksi dalam penyelidikan pemakzulan pekan ini. Partai Demokrat yang mengusai House of Representative mengatakan Trump menangguhkan bantuan militer ke Ukraina agar negara itu bersedia membantunya menyelidiki Biden.

Menurut Partai Demokrat bila terbukti Trump bersalah maka hal itu dapat menjadi dasar untuk menurunkannya dari kursi presiden. Trump membantah telah melanggar peraturan dan mengatakan Partai Demokrat hanya ingin menggulingkannya.

"Saya pikir tidak pantas untuk meminta pemerintah asing menyelidiki warga AS," kata Vindman dalam kesaksiannya dalam pertempuan tertutup dengan House pada 28 Oktober lalu.

Veteran perang Irak itu mengatakan 'tidak ada keraguan' dalam permintaan Trump terhadap Zelenskiy. Vindman bersaksi bukan pertama kalinya ia memperingatkan pemerintah telah mendorong Ukraina untuk menyelidiki Demokrat.  

Vindman mengatakan pada 10 Juli ada sebuah pertemuan di Gedung Putih. Duta besar Gordon Sondland memberitahu pejabat Ukraina mereka harus 'melaksanakannya' sebelum langkah selanjutanya dilakukan. Langkah selanjutnya adalah pertemuan Zelenskiy dengan Trump.

"Dia berbicara tentang pemilihan umum 2016 dan penyelidikan terhadap Biden dan Burisma," kata Vindman bersaksi.

Trump meminta Zelenskiy untuk menyelidiki putra Biden yakni Hunter yang berkerja di perusahaan gas Ukraina, Burisma. "Ukraina harus melaksana penyelidikan terhadap Biden dan putranya, di sana tidak ada ambiguitas," kata Vindman.

Dalam dua kesempatan tersebut, kata Vindman, ia khawatir adanya perubahan kebijakan Ukraina yang dipimpin oleh John Eisenberg dari NSC. Sementara itu, Williams yang sudah lama bekerja di Kementerian Luar Negeri AS mengatakan ia juga khawatir dengan sambungan telepon Trump.

Sambungan telepon itu diawasi oleh para pembantu presiden sesuai standar yang berlaku. Ketika Gedung Putih merilis transkrip pembicaraan antara Trump dan Zelenskiy, ia juga memberikannya Pence.

"Saya hanya tidak tahu apakah ia membacanya atau tidak," kata Williams.  

Setelah Vindman dan Williams, House akan mendengar kesaksian dari dua mantan pejabat NSC Timothy Morrison dan mantan utusan khusus AS untuk Ukraina Kurt Volker. Gordon Sondland pendonor kampanye Trump akan bersaksi pada Rabu (20/11) besok. 

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA