Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Badan Pengawas PBB: Iran Kembali Langgar Kesepakatan Nuklir

Rabu 20 Nov 2019 06:41 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Proyek reaktor nuklir Arak di Iran.

Proyek reaktor nuklir Arak di Iran.

Foto: Reuters/ISNA/Hamid Forootan/Files
Iran menambah pasokan air berat lebih banyak dari ketentuan kesepakatan nuklir.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Badan pengawas nuklir PBB, International Atomic Energy Agency (IAEA) mengatakan Iran kembali melanggar batasan kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Iran menambah pasokan air berat lebih banyak dibandingkan ketentuan JCPOA.

Baca Juga

Pada Selasa (19/11) IAEA mengatakan pada 16 November Iran telah menginformasikan kini air berat yang mereka timbun telah melewati 130 ton. Pada 17 November, mengonfirmasi air berat Iran telah mencapai 131,5 ton.

Air berat dapat membantu mendinginkan reaktor yang memproduksi plutonium. Nantinya, plutonium dapat digunakan menjadi senjata nuklir.

Iran bersikeras program nuklir mereka ditunjukan untuk perdamaian. Perlahan-lahan Teheran terus melanggar JCPOA yang disepakati kekuatan besar dunia setelah Amerika Serikat (AS) menarik diri dari kesepakatan itu tahun lalu.

Pada 6 November lalu, Iran mulai menyuntikkan gas uranium ke sentrifugal di fasilitas nuklir bawah tanah Fordo. Presiden Iran Hassan Rouhani mengumumkan hal itu artinya fasilitas nuklir Fordo kembali menjadi infrastruktur atom.

Sebelumnya karena JCPOA fasilitas nuklir Fordo hanya tempat penelitian. Hal itu diumumkan tepat satu hari setelah Departemen Kementerian Luar Negeri AS  memperpanjang izin bagi sipil yang ingin berkerjasama dengan Iran dalam proyek nuklir.

Perusahaan nuklir milik pemerintah Rusia, Rosatom dapat melanjutkan kerja mereka di lokasi tersebut. Dalam JCPOA 1.044 sentrifugal di Fordo berputar tanpa gas uranium hexafluoride yang kini telah Iran suntikan.

Pengumuman Rouhani tersebut menunjukkan meningkatnya perkembangan program nuklir Iran. Hal itu juga menambah tekanan kepada negara-negara Eropa yang tetap bertahan di JCPOA. 

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA