Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Aksi Islandia Sebabkan Kelangkaan Ikan Makarel

Jumat 22 Nov 2019 09:23 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Indira Rezkisari

Ikan makarel.

Ikan makarel.

Foto: Flickr
Islandia tidak akan berhenti tangkap ikan makarel meski ada sanksi.

REPUBLIKA.CO.ID, REYKJAVIK -- Islandia dituduh mengancam keberlanjutan jangka panjang cadangan ikan makarel. Kekurangan makarel terjadi ketika Islandia secara sepihak meningkatkan tangkapannya di perairan internasional Atlantik timur laut.

Dalam dokumen yang bocor dalam pertemuan di London pada bulan Oktober, Uni Eropa, Norwegia dan Kepulauan Faroe mengecam keputusan Reykjavik untuk secara signifikan meningkatkan kuota tanpa konsultasi. Rusia dan Greenland juga dikritik atas kondisi tersebut.

"Delegasi tersebut sangat menyesalkan keputusan Islandia pada 2019 untuk meningkatkan kuota unilateral ke level yang jauh melebihi klaim sebelumnya, yang diperdebatkan oleh delegasi," kata dokumen itu, dikutip dari The Guardian.

Tindakan tersebut dianggap melemahkan upaya yang dilakukan oleh UE, Norwegia dan Kepulauan Faroe untuk mempromosikan keberlanjutan jangka panjang. Negara tersebut menyatakan kekecewaan atas keputusan Islandia yang memutuskan tanpa ada konsultasi sebelumnya.

Makerel adalah persediaan industri perikanan Inggris yang paling penting, bernilai lebih dari setengah miliar poundsterling setahun. Secara historis, telah dibagi dengan negara-negara pantai lain yang perairannya dilewati makarel, terutama Uni Eropa, Norwegia dan Kepulauan Faroe.

Setiap tahun, para ilmuwan independen di Komite Internasional untuk Eksplorasi Laut merekomendasikan tingkat tangkapan total.  Umumnya sekitar 1 juta ton dapat diambil dengan aman di perairan nasional dan internasional untuk melindungi kesehatan stok.

Komisi Perikanan Atlantik Timur Laut (NEAFC), yang terdiri dari Uni Eropa, Norwegia, dan Denmark, ditambah Islandia dan Rusia, kemudian seharusnya mengelola dan menegakkan batas itu. Namun, Islandia, Rusia dan Greenland, tidak menyetujui kuota dan pada dasarnya menetapkan batas sendiri. Hal ini memuat negara yang tersisa memotong tangkapan tahunan mereka sekitar 15 persen untuk mengimbangi kegiatan tiga lainnya, terutama di perairan internasional.

Tangkapan laut lepas telah melonjak dari sekitar 70.000 ton lima tahun lalu atau 9 persen dari total, menjadi lebih dari 200.000 ton atau lebih dari 20 persen pada tahun 2018. Sedangkan 60 persen dari makarel yang ditangkap Islandia berasal dari perairan internasional.

"Jika Islandia, Rusia, dan Greenland terus meningkatkan hasil tangkapan mereka pada tingkat ini, stok sekarang yang sehat ini sekali lagi dapat secara serius berisiko," kata konsultan kelautan Terri Portmann.

Direktur eksekutif organisasi perikanan berkelanjutan Blue Marine Foundation Charles Clover mengatakan, aktivitas penangkapan ikan di perairan internasional meningkat pada tingkat yang mengkhawatirkan. Kondisi ini dapat membahayakan stok ikan yang sangat penting dalam risiko.

"Mayoritas penangkapan ikan berlebihan ini dilakukan oleh negara-negara yang tidak mendaftar untuk alokasi stok keseluruhan di Atlantik timur laut," kata Clover.

Islandia mengatakan tidak akan mundur, meskipun ada ancaman sanksi UE musim panas nanti. Reykjavik bermaksud meningkatkan tangkapannya dari 108.000 menjadi 140.000 ton, dan Greenland bertujuan untuk meningkatkan bagiannya sebesar 18 persen menjadi lebih dari 70.000 ton.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA