Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Campak Bunuh Lima Ribu Orang di Kongo

Jumat 22 Nov 2019 16:45 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Vaksin Campak (ilustrasi)

Vaksin Campak (ilustrasi)

Foto: topnews.in
Sepanjang 2019 campak telah membunuh lima ribu orang di Kongo

REPUBLIKA.CO.ID, KINSHASA -- Campak telah menewaskan hampir lima ribu orang di Republik Demokratik Kongo pada 2019. Pihak berwenang mengatakan jumlah korban besar itu setelah penyakit menyebar ke semua provinsi di negara itu.

Pada tahun ini saja hampir seperempat juta orang di Kongo telah terinfeksi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan ini adalah epidemi terbesar dan bergerak tercepat di dunia.

Campak di Kongo sekarang telah membunuh lebih dari dua kali lipat jumlah yang meninggal akibat Ebola di negara itu dalam 15 bulan terakhir. Pemerintah Kongo dan WHO meluncurkan program vaksinasi darurat pada September. Program ini bertujuan untuk menyuntik lebih dari 800 ribu anak-anak. Dikutip dari BBC, mayoritas yang terinfeksi adalah bayi.

Namun infrastruktur yang buruk, serangan terhadap pusat-pusat kesehatan, dan kurangnya akses ke perawatan kesehatan rutin menjadi penghambat menghentikan penyebaran penyakit. Saat ini empat juta anak telah divaksinasi. Akan tetapi, para ahli memperingatkan jumlah ini kurang dari setengah jumlah keseluruhan masyarakat, terlebih lagi ketersediaan vaksin kurang.

Campak adalah virus yang pada awalnya menyebabkan pilek, bersin, dan demam. Beberapa hari kemudian menyebabkan ruam bernoda yang dimulai pada wajah dan menyebar ke seluruh tubuh. Kebanyakan orang akan pulih tetapi campak dapat menyebabkan cacat seumur hidup.

Bahkan penyakit ini bisa mematikan, terutama jika menyebabkan pneumonia di paru-paru atau ensefalitis atau pembengkakan di otak. Diperkirakan secara global 110 ribu orang meninggal akibat campak setiap tahun.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA