Kamis 28 Nov 2019 20:06 WIB

Pasukan Irak Tembak Mati 14 Demonstran

Pasukan keamanan Irak menembak mati 14 orang yang berunjuk rasa di Nassiriya

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih
Pengunjuk rasa antipemerintah berlari  melemparkan tabung gas air mata ke arah pasukan polisi anti huru hara selama bentrokan dengan pasukan polisi anti huru hara di jalan Al Rasheed  Baghdad, Irak, Senin (25/11/2019).
Foto: EPA-EFE/Ahmed Jalil
Pengunjuk rasa antipemerintah berlari melemparkan tabung gas air mata ke arah pasukan polisi anti huru hara selama bentrokan dengan pasukan polisi anti huru hara di jalan Al Rasheed Baghdad, Irak, Senin (25/11/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD -- Pasukan keamanan Irak menembak mati 14 orang yang berunjuk rasa di Nassiriya, Kamis (28/11). Hal itu terjadi setelah gedung konsulat Iran di Najaf dibakar para demonstran pada Rabu (27/11) malam.

Menurut beberapa sumber medis, pasukan keamanan menembaki massa yang berkumpul di sebuah jembatan di Nassiriya pada Kamis pagi. Selain menewaskan 14 orang, aksi itu menyebabkan belasan demonstran lainnya luka-luka.

Baca Juga

Jam malam telah diberlakukan di Najaf setelah pengunjuk rasa menyerbu dan membakar gedung konsulat Iran. Itu merupakan ekspresi terkuat dari sentimen anti-Iran dari demonstran Irak.

"Pembakaran konsulat (Iran) tadi malam adalah tindakan berani dan reaksi dari rakyat Irak. Kami tidak menginginkan orang-orang Iran," ujar Ali, seorang pengunjuk rasa di Najaf.

Menurut dia akan ada aksi balas dendam dari Iran. "Saya yakin mereka masih di sini dan pasukan keamanan akan terus menembaki kami," katanya.

Komandan Popular Mobilisation Forces (PMF) Abu Mahdi al-Muhandis mengatakan pihaknya akan menggunakan kekuatan penuh untuk menghadapi siapa pun yang berupaya menyerang ulama Syiah terkemuka di Irak. PMF merupakan kelompok payung dari grup paramiliter yang memiliki kedekatan dengan Teheran. "Kami akan memotong tangan siapapun yang mencoba mendekati (Ayatollah Ali) al-Sistani," ujar a-Muhandis.

Aksi demonstrasi di Irak pecah pada 1 Oktober lalu. Masyarakat turun ke jalan untuk memprotes permasalahan yang mereka hadapi, seperti meningkatnya pengangguran, akses terhadap layanan dasar, termasuk air dan listrik, yang terbatas serta masifnya praktik korupsi di tubuh pemerintahan. Mereka mendesak Adel Abdul Mahdi mundur dari jabatannya sebagai perdana menteri.

Meski sempat jeda selama tiga pekan, aksi demonstrasi masih terjadi secara sporadis di beberapa daerah di Irak. Lebih dari 350 orang dilaporkan tewas selama unjuk rasa berlangsung sejak Oktober lalu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement