Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Polisi Akhiri Pengepungan di Universitas Politeknik Hong Kong

Sabtu 30 Nov 2019 00:57 WIB

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle

Polisi Akhiri Pengepungan di Universitas Politeknik Hong Kong

Polisi Akhiri Pengepungan di Universitas Politeknik Hong Kong

Bentrokan di Universitas Politeknik Hong Kong menjadi yang paling brutal

Polisi Hong Kong pada Jumat (29/11) akhirnya membubarkan penjagaan di sekitar kampus Politeknik, tempat para demonstran bersembunyi selama pengepungan yang terjadi dalam 13 hari terakhir.

Kepolisian meninggalkan Universitas Politeknik Hong Kong setelah sehari sebelumnya masuk ke dalam area kampus untuk mengumpulkan barang bukti dan mengamankan benda-benda berbahaya lainnya.

Baca juga : Meski Kalah dalam Pemilu Lokal, Pemimpin Hong Kong Carrie Lam Tolak Menyerah

Polisi: "Ribuan bahan peledak disita"

Dalam sebuah pernyataan, polisi mengatakan bahwa selama dua hari penggeledahan, mereka berhasil menyita sebanyak 3.989 bom bensin, 1.339 benda peledak, 601 botol cairan korosif dan 573 senjata. Sementara, tidak ada lagi demonstran yang tersisa di dalam kampus.

Sekitar 1.100 pengunjuk rasa dipukul mundur ke dalam kampus setelah bentrok melawan kepolisian pada 17 November lalu, berujung pada terjadinya sebuah kebuntuan yang membuat universitas itu ikut digeledah.

Polisi mengatakan telah menangkap 810 orang, 300 di antaranya tercatat sebagai anak di bawah umur. Namun beberapa demonstran berhasil melarikan diri.

Saat ini, Universitas itu menghadapi tugas berat membersihkan kampus.

Melalui sebuah surat yang dikirimkan kepada mahasiswa pada Jumat, pejabat universitas meminta warga untuk menjauh.

“Kampus masih tidak aman, dan masih akan terus ditutup,” tulis surat tersebut.

Seorang pejabat universitas memperkirakan waktu yang akan diperlukan untuk memperbaiki kerusakan kampus adalah lima sampai enam bulan.

Dalam kunjungan resminya ke Thailand, pemimpin kota Carrie Lam mengatakan bahwa meskipun Hong Kong sedang mengalami periode sulit namun prinsip fundamental "satu negara, dua sistem" tetap kuat dan kota pusat finansial Asia itu akan bangkit lagi..

"Saya dan pemerintahan yang saya pimpin mendengar rakyat dengan sudut pandang mencari solusi dari masalah yang ada di Hong Kong dengan dialog," ujarnya. "Saya percaya Hong Kong akan bangkit," tambahnya.

Baca juga : Senat AS Dukung Demokrasi Hong Kong, Cina Ancam Tindakan Balasan

Masih akan ada protes?

Berakhirnya pengepungan oleh polisi di Universitas Politeknik Hong Kong ini muncul setelah para aktivis berjanji untuk menunda aksi unjuk rasa dan pemogokan baru dalam beberapa hari kedepan. Bentrokan yang terjadi di kampus PolyU itu disebut sebagai salah satu yang paling brutal selama unjuk rasa Hong Kong yang terjadi selama hampir enam bulan.

Aksi protes massal itu dipicu Juni lalu oleh rancangan undang-undang yang memungkinkan ekstradisi ke Cina, sehingga memicu kekhawatiran bahwa Beijing akan mengancam kebebasan di Hong Kong. Sejak itu, protes terus meluas dan akhirnya menjadi sebuah gerakan yang menyerukan adanya reformasi demokrasi dan menuntut akuntabilitas kepolisian.

Gerakan yang dijuluki pro-demokrasi ini pekan lalu mendapatkan dorongan semangat karena partai-partai mereka menyapu kemenangan dalam pemilihan lokal Hong Kong. Kemenangan itu dimaknai sebagai sebuah kritik pedas kepada Beijing dan juga pemimpin kota Carrie Lam.

gtp/hp (afp, ap)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA