Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Enam Negara Eropa Gabung Instex

Senin 02 Dec 2019 06:29 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolanda

Uni Eropa

Uni Eropa

Foto: Reuters
Instex adalah mekanisme dagang untuk bertransaksi dengan Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Prancis, Jerman, dan Inggris menyambut enam negara Eropa yang bergabung dalam Instrument in Support of Trade Exchanges (Instex). Ia adalah sebuah mekanisme perdagangan yang dibentuk khusus untuk bertransaksi dengan Iran guna menghindari sanksi Amerika Serikat (AS).

"Sebagai pemegang saham pendiri Instex, Prancis, Jerman, dan Inggris menyambut dengan hangat keputusan yang diambil oleh pemerintah Belgia, Denmark, Finlandia, Belanda, Norwegia, dan Swedia untuk bergabung dengan Instex sebagai pemegang saham," kata Prancis, Jerman, dan Inggris dalam sebuah pernyataan bersama pada Sabtu (30/11).

Menurut ketiga negara, penambahan enam anggota baru semakin memperkuat Instex. Hal itu turut menunjukkan upaya Eropa memfasilitasi perdagangan yang legal dengan Iran. "Ini mewakili ekspresi yang jelas dari komitmen berkelanjutan kami terhadap Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), kesepakatan nuklir Iran 2015," kata Prancis, Jerman, dan Inggris.

Instex yang berbasis di Paris berfungsi sebagai clearing house. Hal itu memungkinkan Iran untuk terus menjual minyaknya dan mengimpor produk atau layanan lain sebagai gantinya. Sistem Instex belum mengaktifkan transaksi apa pun.

Kendati telah menyediakan jalur perdagangan alternatif, Prancis, Jerman, dan Inggris tetap mendesak Iran agar kembali mematuhi komitmennya dalam JCPOA tanpa penundaan. "Kami tetap berkomitmen penuh untuk mengejar upaya kami menuju resolusi diplomatik dalam kerangka kerja JCPOA," ujar mereka.

JCPOA mewajibkan Iran membatasi program nuklirnya hanya untuk keperluan sipil. Sebagai gantinya, sanksi ekonomi terhadap Teheran akan dicabut. Namun situasi menjadi pelik ketika Presiden AS Donald Trump memutuskan menarik negaranya dari JCPOA pada Mei 2018.

Trump menilai JCPOA adalah kesepakatan yang cacat. Sebab di dalamnya tak diatur mengenai aktivitas uji coba rudal balistik Iran dan perannya dalam konflik di kawasan. Setelah menarik AS, Trump menerapkan kembali sanksi ekonomi berlapis terhadap Teheran. Sanksi-sanksi itu membidik sektor keuangan, otomotif, industri logam mulia, dan lainnya.

Trump pun mengancam negara-negara yang masih ingin tetap menjalin bisnis dengan Iran. "Siapa pun yang berbisnis dengan Iran,  tidak akan berbisnis dengan AS. Saya hanya menginginkan perdamaian dunia, tidak kurang!" kata Trump melalui akun Twitter pribadinya pada Agustus lalu.

Penerapan kembali sanksi ekonomi membuat Iran gusar. Mereka secara bertahap  menangguhkan komitmennya dalam JCPOA. Hal itu dimulai dengan melakukan pengayaan uranium yang melampaui ketentuan JCPOA pada Juli lalu. Iran telah mengambil empat langkah mundur dari kesepakatan nuklir.

Langkah terakhir terjadi pada 4 November lalu. Saat itu para ahli Iran mulai memasukkan gas uranium hexafluoride ke dalam sentrifugal pengayaan mothball di pabrik bawah tanah Fordow di selatan Teheran.

Mulai goyah dan retaknya JCPOA telah menjadi perhatian para pihak penandatangan kesepakatan lainnya, yakni Inggris, Prancis, Jerman, Cina, dan Rusia. Mereka sempat membahas langkah-langkah untuk menyelamatkan JCPOA dalam pertemuan di Wina, Austria, pada Agustus lalu.

Instex menjadi salah satu bentuk upaya tersebut. Para pejabat Iran telah berulang kali mengatakan bahwa Instex harus memasukkan penjualan minyak atau menyediakan fasilitas kredit yang substansial agar menguntungkan. Namun para diplomat Eropa sempat mencemaskan bahwa mereka dapat dibidik sanksi Washington.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA