Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Intervensi Militer Inggris Picu Terorisme

Senin 02 Des 2019 08:14 WIB

Red: Budi Raharjo

Polisi memasang garis batas polisi di jalan dekat lokasi penusukan di London Bridge, Jumat (29/11).

Polisi memasang garis batas polisi di jalan dekat lokasi penusukan di London Bridge, Jumat (29/11).

Foto: EPA
Ratu Elizabeth II sampaikan simpatinya untuk korban penyerangan di London Bridge.

REPUBLIKA.CO.ID, YORK – Pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn menilai, intervensi militer Inggris yang terus berulang telah memicu terorisme. Menurut dia, intervensi militer justru memperburuk masalah tersebut.

"Intervensi militer berulang Inggris di Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Selatan telah memperburuk, bukannya malah menyelesaikan masalah," ujar Corbyn, seperti dikutip dari the Guardian, Ahad (1/12).

Lewat pidatonya, Corbyn menyampaikan, perang melawan teror telah gagal. Dia menyebut, Inggris berisiko terikat pada "ujung mantel" Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan kebijakan luar negeri AS di bawah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Komentar Corbyn tersebut datang tepat sebelum Johnson menjadi tuan rumah KTT NATO pekan lalu yang dihadiri oleh Trump.

Menanggapi serangan di London Bridge dalam pidatonya di York, Inggris, Corbyn memuji keberanian luar biasa publik menghadapi penyerang. Dia mengatakan, tindakan polisi sudah tepat. Namun, kata dia, selain teroris di lapangan, tanggung jawab atas terorisme juga ada pada para penyandang dana dan perekrut mereka.

"Ancaman terorisme tidak dapat dan tidak boleh direduksi menjadi kebijakan luar negeri saja, terlalu sering tindakan pemerintah berturut-turut justru memicu dan tidak mengurangi ancaman itu," ujar Corbyn.

Corbyn mengkritik kebijakan hukuman pemerintah. "Harus ada investigasi yang sangat lengkap," kata Corbyn yang berusaha untuk menggulingkan Johnson dalam pemilihan pada 12 Desember nanti.

Polisi menyatakan, si pelaku sebelumnya telah mendapatkan hukuman atas kasus terorisme pada 2012. Dia terlibat dalam kelompok Alqaeda untuk meledakkan London Stock Exchange dan telah bebas bersyarat pada Desember 2018.

"Saya pikir ada juga pertanyaan tentang apa yang dilakukan saat masa percobaan dan apakah dewan pembebasan bersyarat harus terlibat dalam memutuskan apakah dia seharusnya dibebaskan dari penjara di tempat pertama," kata Corbyn.

Sekitar 16 tahun lalu, Corbyn memperingatkan terhadap invasi dan pendudukan Irak. Kala itu, dia menyebut, hal tersebut akan menyebabkan konflik, kebencian, dan keputusasaan yang akan memicu perang, terorisme, dan kesengsaraan generasi mendatang. \"Itu benar, dan kita masih hidup dengan konsekuensi tersebut hari ini,\" kata dia.

ISIS mengklaim serangan yang terjadi di London Bridge pada Jumat (29/11). Serangan itu dilakukan oleh salah satu anggotanya, meski kelompok itu tidak memberikan bukti untuk menguatkan pernyataan tersebut.

Kantor berita resmi ISIS Amaq melaporkan, serangan itu dilakukan sebagai tanggapan ISIS terhadap negara yang melawan mereka. ISIS akan menargetkan negara-negara yang telah menjadi bagian dari koalisi untuk melawan keberadaan ISIS.

Baca Juga

photo
Warga membantu seorang pria yang jatuh saat polisi mengevakuasi masyarakat dari Borough Market di selatan London Bridge di London, Jumat (29/11). Polisi mengatakan sejumlah orang menjadi korban penusukan.


Ratu Elizabeth II menyampaikan rasa simpati mendalam untuk semua korban penyerangan di London Bridge pada Jumat (29/11) lalu. Dia mengaku sedih atas terjadinya peristiwa tersebut.

"Pangeran Philip dan saya mengirimkan perhatian, doa, dan simpati yang terdalam pada semua yang kehilangan orang yang dicintai serta yang terdampak oleh kekerasan mengerikan kemarin," ujar Ratu Elizabet seperti disampaikan dalam akun Twitter The Royal Family pada Sabtu (30/11).

Dia mengapresiasi semua pihak yang telah merespons aksi serangan tersebut dengan sigap. "Saya mengucapkan terima kasih kepada polisi dan layanan darurat serta orang-orang pemberani yang mempertaruhkan nyawanya sendiri guna membantu dan melindungi orang lain tanpa pamrih," ujarnya.

Serangan di London Bridge dilakukan oleh seorang mantan narapidana bernama Usman Khan. Dia melakukan serangan di Fishmongers Hall, ujung utara London Bridge. Saat itu, sebuah konferensi Universitas Cambridge sedang berlangsung. Kemudian, serangan itu berlanjut hingga London Bridge.

Khan berhasil ditembak oleh polisi Inggris setelah menikam dua orang hingga meninggal dan melukai tiga orang lainnya. Dia mengenakan rompi bom bunuh diri palsu ketika melakukan aksinya.

Sebelum peristiwa itu, Khan pernah ditahan dengan kasus terorisme pada 2012. Dia mendapatkan bebas bersyarat pada tahun lalu dengan izin dan alasan yang jelas.

Pada 2017 lokasi yang sama pun menjadi saksi tiga milisi mengendarai sebuah van yang menabrak pejalan kaki dan kemudian menyerang orang-orang di sekitarnya. Insiden itu menewaskan delapan orang dan melukai setidaknya 48 orang. n dwina agustin/kamran dikarma/reuters, ed: qommarria rostanti

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA