Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sekjen PBB: 'Perang' Lawan Alam Harus Dihentikan

Senin 02 Dec 2019 09:18 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolanda

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berbicara dalam konferensi pers jelang perhelatan KTT iklim global di Madrid, Spanyol pada 2-13 Desember, Ahad (1/12).

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berbicara dalam konferensi pers jelang perhelatan KTT iklim global di Madrid, Spanyol pada 2-13 Desember, Ahad (1/12).

Foto: AP Photo/Paul White
Tingkat gas rumah kaca di atmosfer mencapai rekor tertinggi pada 2018.

REPUBLIKA.CO.ID, MADRID -- Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan dunia harus menghentikan perang melawan alam dan mencari lebih banyak kemauan politik guna menangani perubahan iklim. Hal itu dia sampaikan menjelang perhelatan KTT iklim global di Madrid, Spanyol pada 2-13 Desember.

Baca Juga

"Perang kita melawan alam harus dihentikan dan kita tahu itu mungkin. Kita hanya harus berhenti menggali dan mengebor serta mengambil keuntungan dari kemungkinan besar yang ditawarkan energi berbasis terbarukan dan solusi berbasis alam," kata Guterres pada Ahad (1/12).

Dia mengatakan negara-negara dunia telah menyepakati Kesepakatan Iklim Paris untuk memangkas emisi gas rumah kaca. Namun menurut dia masih banyak negara yang tidak memenuhi komitmen tersebut.

Sebanyak 70 negara telah berkomitmen untuk tujuan netralitas karbon atau netralitas iklim pada 2050. Ini berarti mereka akan menyeimbangkan gas rumah kaca, misalnya melalui teknologi penangkapan karbon atau menanam pohon.

Namun Guterres menilai janji tersebut tidak cukup. "Kita juga melihat dengan jelas bahwa penghasil emisi terbesar di dunia tidak menarik beban mereka. Tanpa mereka tujuan kita tak dapat dijangkau," ujarnya.

Pernyataannya itu dinilai merujuk pada keputusan Amerika Serikat (AS) menarik diri dari Kesepakatan Iklim Paris. Sementara Cina yang telah tergabung dalam kesepakatan cenderung mundur guna membangun lebih banyak pembangkit listrik tenaga batu bara.

Presiden Komisi Eropa Ursula Von der Leyen telah berjanji akan melawan ancaman perubahan iklim. Von der Leyen adalah presiden Komisi Eropa baru yang resmi menjabat sejak Ahad (1/12). "Kita tidak punya waktu untuk membuang-buang waktu lagi dalam memerangi perubahan iklim. Itu akan membutuhkan investasi besar-besaran," ujarnya pada 27 November lalu.

Menurut mantan menteri pertahanan Jerman itu, inisiatif hijau harus inklusif. Hal tersebut merupakan suatu isyarat bagi negara-negara anggota Uni Eropa seperti Polandia yang masih mengandalkan batu bara untuk pekerjaan, energi, dan pertumbuhan.

Ia mengatakan setiap kesepakatan perdagangan Uni Eropa terbaru akan mencakup klausul untuk melindungi lingkungan. Bank Investasi Eropa akan menjadi bank transisi iklim Uni Eropa.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengatakan tingkat gas rumah kaca di atmosfer mencapai rekor tertinggi pada 2018. Mereka menyerukan tindakan cepat untuk melindungi kesejahteraan umat manusia pada masa mendatang.

Konsentrasi karbon dioksida (CO2) pada 2018 tercatat mencapai 407,8 parts per million (ppm). Angka itu melonjak dibandingkan pada 2017, yakni 405,5 ppm. Peningkatan itu tepat di atas kenaikan rata-rata tahunan 2,06 ppm selama dekade terakhir.

"Tidak ada tanda-tanda perlambatan, apalagi penurunan, dalam konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer terlepas dari semua komitmen di bawah Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim," kata Kepala WMO Petteri Taalas dalam sebuah pernyataan pada 25 November lalu.

Konsentrasi dua gas rumah kaca lainnya, yakni metana dan dinitrogen oksida, juga mencapai rekor tertinggi pada 2018. "Tren jangka panjang yang berkelanjutan ini akan dihadapkan dengan dampak perubahan iklim yang semakin parah, termasuk kenaikan suhu, cuaca yang lebih ekstrem, tekanan air, kenaikan permukaan laut, dan gangguan ekosistem laut serta darat," kata Taalas.

Dia memperingatkan terakhir kali bumi mengalami konsentrasi karbon dioksida yang sebanding adalah pada tiga hingga lima juta tahun lalu. "Saat itu suhu 2 hingga 3 derajat celcius lebih hangat dan permukaan laut 10-20 meter lebih tinggi dari sekarang," ujarnya, dikutip laman the Guardian.

Para ilmuwan dunia menghitung bahwa emisi harus turun hingga setengahnya pada 2030. Tujuannya agar memberi peluang yang baik guna membatasi pemanasan global menjadi 1,5 derajat celcius. Di luar itu, ratusan juta manusia akan menderita lebih banyak gelombang panas, kekeringan, banjir, dan kemiskinan.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA