Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Krisis Iklim Paksa 20 Juta Orang Tinggalkan Rumah

Selasa 03 Des 2019 00:15 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Perubahan iklim (Ilustrasi)

Perubahan iklim (Ilustrasi)

Foto: PxHere
Perubahan iklim memaksa 20 juta orang meninggalkan rumah per tahunnya

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Menurut sebuah laporan terbaru dari Oxfam, bencana alam yang dipicu perubahan iklim memaksa 20 juta orang meninggalkan rumah per tahunnya dalam beberapa dekade terakhir. Angka itu setara dengan setiap dua detik orang yang meninggalkan rumah karena bencana.

Hal ini menjadikan iklim penggerak perpindahan internal terbesar dalam periode tersebut. Risiko tertingginya ada pada negara-negara berekonomi rendah. Kendati demikian negara-negara tersebut berkontribusi lebih kecil untuk polusi karbon global dibandingkan dengan negara-negara berekonomi tinggi.

Masalah ini pun menjadi topik utama yang akan dibahas pada Konferensi COP 25 Perubahan Iklim PBB yang dimulai Senin ini di Madrid. Oxfam menyerukan kepada masyarakat internasional untuk berbuat lebih banyak dalam bergerak bagi program pemulihan negara-negara miskin yang terkena dampak darurat iklim. Sebab, peristiwa cuaca ekstrem diperkirakan meningkat baik dalam tingkat keparahan maupun frekuensinya.

Dilansir laman CNN International, negara berpenghasilan rendah dan menengah seperti India, lebih dari empat kali diprediksi terkena dampak pemindahan dari dampak iklim daripada negara-negara berpenghasilan tinggi seperti Spanyol dan Amerika Serikat (AS).

Faktor geografi juga berperan. Sekitar 80 persen dari mereka yang terlantar, tinggal di Asia. Sementara negara-negara berkembang pulau kecil (SIDS) seperti Kuba, Dominika, dan Tuvalu sangat terpengaruh menjadi tujuh dari 10 negara teratas dengan tingkat perpindahan tertinggi dari bencana cuaca ekstrem antara 2008 dan 2018.

Menurut laporan Oxfam, orang-orang yang hidup dalam SIDS 150 kali lebih mungkin tergeser oleh bencana cuaca ekstrem daripada mereka yang tinggal di Eropa. Peneitian ini menganalisis data 2008-18 dari Internal Monitoring Displacement Monitoring Center.

Kepala Kebijakan Oxfam bidang Iklim dan Keadilan Pangan Tim Gore mengatakan pemindahan internal memiliki biaya sosial serta finansial yang tinggi. "Selalu yang termiskin, paling rentan, dan wanita pada khususnya terkena dampak terburuk," ujar Gore dikutip CNN, Senin (2/12).

"Pemindahan semacam ini benar-benar menghancurkan struktur sosial masyarakat," ujarnya menambahkan.

Menurutnya, ada risiko yang lebih akut di negara-negara di mana cuaca dan konflik ekstrem bergabung seperti di Somalia. "Kejadian cuaca ekstrem yang tiba-tiba seperti topan menarik banyak perhatian. Tetapi fenomena awal yang lambat seperti naiknya permukaan laut juga berdampak," kata Gore.

Sebagai contoh, banjir yang memengaruhi lahan pertanian di dataran rendah dapat menyebabkannya lahan pertanian tak dapat digunakan sehingga mendorong penduduk untuk meninggalkan daerah itu untuk selamanya.

Oleh karenanya, Oxfam menyerukan para pemimpin dunia untuk mengurangi emisi secepat mungkin. Negara-negara berkembang juga akan mendorong dukungan dari negara-negara maju melalui mekanisme keuangan untuk menangani kerugian dan kerusakan.

Pertama kali dibahas pada pertemuan puncak iklim di Warsawa pada 2013, mekanisme seperti itu akan melibatkan negara-negara kaya secara finansial membantu negara-negara miskin untuk menghadapi dampak perubahan iklim. "Tidak ada yang siap untuk berbicara tentang uang dan itulah salah satu masalah kritis yang akan ada di Madrid," kata Gore.

"Pada akhirnya seseorang harus membayar harga untuk dampak ini dan pada saat itu harga sedang dibayar oleh komunitas termiskin di dunia," katanya lagi. Data saat ini menunjukkan risiko yang lebih rendah di negara maju di mana proyeksi menunjukkan bahwa akan berubah.

"Negara-negara kaya juga tidak kebal dari ancaman pemindahan. Perubahan iklim tidak akan mendiskriminasi," katanya.

Direktur kebijakan di Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment, Bob Ward, mengatakan kepada CNN semakin banyak jumlah pengungsi internal sebagian disebabkan oleh pertumbuhan populasi yang tinggal di daerah berisiko tinggi. Menurutnya, perpindahan juga dapat menjadi ukuran keberhasilan dalam beberapa kasus, mengutip sistem peringatan dini yang memungkinkan warga untuk keluar dari bahaya sebelum peristiwa cuaca ekstrem melanda.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA