Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Eksekutif Huawei Jalani Penahanan dengan Buku dan Seni

Senin 02 Dec 2019 17:10 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih

Petinggi Huawei Cina, Meng Wanzhou

Petinggi Huawei Cina, Meng Wanzhou

Foto: AP
CFO Huawei habiskan waktu sebagai tahanan di Kanada dengan membaca buku dan melukis

REPUBLIKA.CO.ID, TORONTO -- Chief Financial Officer Huawei Meng Wanzhou menghabiskan waktunya sebagai tahanan di Kanada dengan membaca buku dan melukis. Wanzhou dilepaskan dari tahanan setelah membayar jaminan tapi tidak diizinkan keluar dari Kanada.

Meng ditangkap di bandara Vancouver atas permintaan AS. Pengalamannya sangat berbeda dengan apa yang dialami dua warga Kanada yang ditahan di China.

"Ketika saya di Shenzhen (China), waktu sangat cepat berlalu. Saya merasa selalu direnggangkan dan waktu tidak pernah terasa cukup untuk menyelesaikan semuanya," kata Meng dalam tulisannya yang dipublikasikan di situs Huawei dilansir BBC, Senin (2/12).

Pengadilan mengizinkannya tinggal di rumahnya di Kanada dan keliling Vancouver. Akan tetapi ia harus mengenakan gelang elektronik dan dilarang keluar dari pukul 23.00 sampai 06.00. Meng mengatakan baginya kini waktu berjalan sangat lambat.

"Saya punya waktu untuk membaca buku dari awal sampai habis. Saya punya waktu membahas hal-hal kecil dengan rekan saya atau berhati-hati menyelesaikan lukisan cat minyak saya," tulis Meng.

Dua warga Kanada yang ditahan di China yakni seorang konsultan Michael Spavor dan mantan diplomat yang bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat Michael Kovrig tidak bisa bertemu dengan pengacara mereka. Keduanya ditahan di pusat penahanan dan boleh dikunjungai staf konsulat Kanada.

Pada April lalu keduanya ditahan dan diinterogasi selama enam sampai delapan jam per hari. Pada Juli kabarnya petugas menyita kacamata baca Kovrig.

Dua orang Kanada itu ditahan pada Desember, tidak lama setelah Kanada menahan Meng. Penahanan mereka juga membawa pada perselisihan diplomatik dan perdagangan antara kedua negara.

China memblokir ekspor daging babi dan sayur-sayuran Kanada yang bernilai puluhan juta dolar AS. Spavor dan Kovrig resmi ditahan pada Mei.

Pada September, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menuduh China menggunakan 'penahanan sewenang-wenang sebagai alat untuk meraih tujuan politik'. Spavor dan Kovrig dituduh memata-matai China.

Bulan lalu menteri luar negeri Kanada yang baru Francois-Philippe Champagne mengatakan ia sudah meminta Kementerian Luar Negeri China agar kasus kedua warga Kanada itu menjadi 'prioritasnya'. "Terutama, saya mengungkapkan kekhawatiran saya dan kekhawatiran seluruh rakyat Kanada mengenai kondisi penahanan mereka," kata Champagne. 

China membantah tuduhan penahanan sewenang-wenang. Mereka mengatakan kedua warga Kanada itu ditahan karena dicurigai terlibat dalam aktivitas yang membahayakan keamanan nasional'.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA