Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Turki Ancam Blokir Rencana NATO di Baltik

Selasa 03 Dec 2019 19:45 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Turki ancam blokir rencana NATO di Baltik kecuali NATO ikut melawan milisi Kurdi YPG. (Ilustrasi)

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Turki ancam blokir rencana NATO di Baltik kecuali NATO ikut melawan milisi Kurdi YPG. (Ilustrasi)

Foto: PA-EFE/KAYHAN OZER
Turki ancam blokir rencana NATO di Baltik kecuali NATO ikut melawan milisi Kurdi YPG

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Turki akan menentang rencana NATO untuk mempertahankan negara-negara Baltik kecuali mereka mengakui kembali kelompok milisi Kurdi sebagai kelompok teror. Hal ini disampaikan Presiden Turki Tayyep Erdogan sebelum pertemuan NATO di London.

Ancaman ini menunjukkan tantangan yang dihadapi blok yang dinilai sebagai persekutuan militer paling sukses sepanjang sejarah. Penolakan ini tepat ketika NATO menggelar pertemuan dalam rangka merayakan 70 tahun berdirinya blok itu.

Penolakan Turki ini hanya akan menambah keraguan masa depan politik NATO yang sudah digambarkan Presiden Prancis Emmanuel Macron 'mati otak'. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkritik pernyataan Macron tersebut.

Erdogan yang merenggangkan hubungan Turki setelah membeli sistem pertahanan udara Rusia berulang kali mengancam untuk memblokir rencana melindungi negara-negara Baltik dan Polandia. Kecuali, NATO mendukungnya untuk berperang melawan milisi Kurdi YPG di Suriah.

"Dengan senang hati, kami dapat bersama-sama dan membahas isu-isu ini di sana tapi jika teman-teman kami di NATO tidak mengakui organisasi teroris yang kami anggap organisasi teroris, kami akan menentang setiap langkah yang diambil di sana," kata Erdogan, Selasa (3/12).

Erdogan menambahkan ia sudah berbicara dengan Presiden Polandia Andrzey Duda melalui sambungan telepon. Mereka sepakat untuk bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara Baltik lainnya di London. Turki, Prancis, Jerman, dan Inggris diperkirakan juga akan menggelar pertemuan terpisah di London.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper memperingatakan Ankara. Ia mengatakan 'tidak semua orang melihat ancaman ini seperti yang mereka lihat' dan ia mendesak NATO tetap bersatu, berhenti memblokir rencana di Baltik.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan NATO akan merespons segala bentuk serangan ke Polandia atau negara-negara Baltik. Stoltenberg menambahkan NATO tidak punya daftar musuh. Tapi persekutuan itu akan merespons bila dibutuhkan.

"Melalui kehadiran pasukan NATO di Polandia dan negara-negara Baltik, kami mengirim sinyal yang sangat kuat ke Rusia: jika ada serangan ke Polandia atau negara-negara Baltik, seluruh persekutuan akan meresponnya," kata Stoltenberg.

Ratu Elizabeth akan menyambut para pemimpin negara-negara NATO di Buckingham Palace. Tapi sebagai tuan rumah, Inggris yang selama ini yang paling antusias dalam kerja sama NATO terpecah karena proyek mereka untuk keluar dari Uni Eropa dan terdistraksi oleh pemilihan umum pekan depan.

"Pernyataannya adalah, kami merayakan 70 tahun, apakah dalam selebrasi ini kami melambai atau orang berpikir kami sedang tenggelam?" kata salah seorang diplomat NATO.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA