Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Dubes Cina Sebut Ada Kekuatan Rusak Hubungan Kedua Negara

Kamis 05 Dec 2019 11:33 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Petugas bank menghitung dolar AS di samping tumpukan yuan China. Dubes China untuk AS Cui Tiankai ungkap mencapai kesepakatan dagang tidak mudah. Ilustrasi.

Petugas bank menghitung dolar AS di samping tumpukan yuan China. Dubes China untuk AS Cui Tiankai ungkap mencapai kesepakatan dagang tidak mudah. Ilustrasi.

Foto: Chinatopix via AP
Dubes China untuk AS Cui Tiankai ungkap mencapai kesepakatan dagang tidak mudah

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON -- Duta Besar China untuk Amerika Serikat Cui Tiankai mengatakan China dan Amerika Serikat (AS) berusaha menyelesaikan perbedaan atas perdagangan, Rabu (4/12). Untuk mencapai kesepakatan tidak mudah dan nyatanya ada kekuatan yang mendorong agar keduanya terus bertikai.

"Pada saat yang sama, kita harus waspada beberapa kekuatan destruktif mengambil keuntungan dari gesekan perdagangan yang sedang berlangsung (melalui) retorika ekstrem seperti 'decoupling', 'Perang Dingin baru', dan 'benturan peradaban'," kata Cui.

Cui berbicara pada jamuan makan malam yang diadakan oleh Dewan Bisnis AS-China. Dia mengatakan hubungan AS-China berada di persimpangan kritis karena gesekan perdagangan tetapi dimungkinkan untuk kembali ke jalur yang lebih baik.

Kesempatan itu digunakan Cui untuk mendesak perusahaan-perusahaan AS dan China memperluas perdagangan antara kedua negara. Dia meminta perusahaan untuk menentang upaya untuk menyebarkan permusuhan dan bahkan menciptakan konflik.

Cui pun tidak membahas pembicaraan perdagangan AS-China secara khusus. Namun, dia mengatakan Beijing tetap berkomitmen untuk memperluas perdagangan bilateral dan investasi antara kedua negara.

Cui pun menyatakan kabar yang beredar di publik tentang kondisi Hong Kong dan Xinjiang merupakan berita palsu. Beberapa pejabat AS bersuara tentang terjadinya pelanggaran hak asasi manusia di dua wilayah itu. "Fakta adalah fakta tidak peduli berapa banyak berita palsu yang dihasilkan," kata Cui.

Komentar Cui datang sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perjanjian perdagangan dengan China dapat ditunda sampai setelah pemilihan presiden AS pada November 2020. Keputusan ini pun terjadi di tengah langkah legislatif AS untuk mengatasi masalah Uighur.

Amerika Serikat dan China berada dalam perang perdagangan yang sengit selama 17 bulan. Pemerintah AS menindak berbagai upaya yang dilihatnya sebagai upaya China untuk mencuri teknologi AS dan mendominasi pasar global.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA