Selasa, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 Januari 2020

Selasa, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 Januari 2020

TV Israel Siarkan Rekaman Perlakuan Kejam Terhadap Ternak Di Australia Barat

Jumat 06 Des 2019 09:25 WIB

Red:

.

.

Binatang ternak diperlakukan kejam seperti dipukul, ditendang dan ditembak.

Industri peternakan sapi di Australia Barat kembali menjadi sorotan menyusul dirilisnya cuplikan gambar yang direkam secara diam-diam di Kimberley oleh Stasiun TV Israel. Rekaman itu memperlihatkan binatang ternak diperlakukan kejam seperti dipukul, ditendang dan ditembak.

Baca Juga

Tuduhan Kekejaman Hewan di Kimberley:

  • Departemen Industri Primer Australia Barat menggelar penyelidikan kaerena televisi Israel menyiarkan rekaman kekejaman terhadap binatang di Kimberley
  • Rekaman menggambarkan ternak dipukul dibagian wajahnya oleh para pekerja dan dipotong tanduknya tanpa dibius
  • Perusahaan Pastoral Yeeda mengutuk tindakan kekejaman yang dilakukan di lahan yang disewakannya

 

Rekaman itu diambil di empat stasiun ternak di barat Kimberley pada tahun 2018, dan menunjukkan praktek yang bahkan oleh kelompok industri peternakan sendiri digambarkan sebagai hal yang keji dan mengerikan.

Perusahaan peternakan Yeeda membenarkan Stasiun Kilto yang berlokasi sekitar 50 kilometer dari Broome, merupakan salah satu lokasi yang ada dalam rekaman itu, dimana terlihat sapi dipukul di wajahnya oleh para pekerja.

Sapi itu juga dipotong tanduknya tanpa diberi obat penghilang rasa sakit, dan ditembak beberapa kali namun tidak sampai mati. Dalam rekaman itu juga terlihat sapi mati dalam jumlah besar diseret ke dalam lubang yang tidak tertutup.

Kelompok aktivis internasional Sentient mengklaim merekam cuplikan film itu dan kemudian ditayangkan dalam program berita nasional di jaringan televisi publik Israel, Kan 11, pada hari Rabu (4/12/2019).

Menurut situs web organisasi itu, penyelidik dari lembaganya yang menyamar, termasuk kepala eksekutif kelompok itu Ronen Bar, bekerja di empat peternakan sapi selama periode dua tahun.

"Masalahnya adalah di seluruh industri peternakan di Australia - adalah keliru jika menjadikan pekerja tertentu sebagai kambing hitam ketika apa yang kami dokumentasikan merupakan praktik standar di industri ini," kata CEO Sentient Ronen Bar dalam sebuah pernyataan.

 

"Kami tidak bermaksud menyudutkan para pekerja, mereka juga terjebak dalam suatu sistem dan dalam penerimaan budaya atas penderitaan yang perlu diubah."

Ronen Bar mengatakan dia dan Sentient termotivasi untuk meluncurkan hasil dari operasi penyamaran yang dilakukan ini dengan menggunakan saluran televisi Israel mengingat Israel adalah pasar ekspor ternak yang signifikan untuk Australia.

"Kami melakukan perjalanan ke Australia untuk menentukan bagaimana sapi Australia diperlakukan sebelum dikirim dan apakah standar perawatan dapat diterima oleh warga Israel," katanya.

"Saya melihat ternak dipotong tanduknya dan dikebiri tanpa pereda nyeri - hewan yang kesakitan, terluka, dan anak ternak yang tidak ada induknya dibiarkan mati atau disuntik mati tanpa prosedur yang benar."

Mantan manajer mendukung stasiun

Produsen ternak Kimberley, Jack Burton, yang berwenang di perusahaan Yeeda Pastoral saat penyamaran itu diperoleh membela stasiun dengan menyatakan situasi yang sebenarnya terjadi berbeda dengan apa yang digambarkan di rekaman itu.

"Sangat mengecewakan bahwa seperti biasanya rekaman jenis ini dibuat dan diedit dengan hati-hati untuk membuat kita semua terlihat seperti orang barbar," katanya.

"Ketika itu peternakan kami sedang dilanda wabah dan banyak hewan ternak kami yang mati."

"Kami melakukan beberapa kunjungan oleh dokter hewan lokal dan dikatakan kami memiliki wabah BRD [Penyakit Pernafasan Bovine]."

Dia mengatakan stasiun itu harus menyuntik mati hewan-hewan yang sakit, yang katanya dilakukan secepat dan semanusiawi mungkin.

"Sangat mengecewakan bahwa orang-orang yang telah kami pekerjakan untuk membantu kami melalui situasi ini lebih suka menggunakan hewan yang sekarat sebagai alat untuk menyalurkan maksud mereka daripada memberi tahu seseorang dan mengeluarkannya dari kesengsaraannya," kata Burton.

Menembak binatang sama sekali bukan sesuatu yang dianggap enteng dan bagi kru saya itu adalah salah satu pekerjaan tersulit yang harus dilakukan di sebuah properti.

 

Dia mengatakan pemotongan tanduk dilakukan oleh staf terlatih di seluruh Australia Barat, sambil menekankan selalu ada ruang untuk perbaikan.

"Sebagai perspektif, pastoral yang dimaksud menangani sekitar 70.000 ekor per musim, sehingga pada saat kedua mata-mata Israel berada di sana, sekitar 20.000 kepala dilewati," katanya.

"Sehubungan dengan salah satu anggota staf menjadi frustrasi dan memukul dengan palu, itu jelas sesuatu yang tidak dapat diterima oleh kami dan industri dan sesuatu yang dia benar-benar minta maaf.

"Kenyataannya adalah bahwa setelah berjam-jam dan berhari-hari, sangat mungkin pekerja emosinya meninggi.

"Sebagai pemilik sebelumnya dari perusahaan Yeeda Pastoral, saya akan mendukung kru saya mengetahui bahwa mereka tidak sempurna tetapi akan selalu melakukan yang terbaik, kadang-kadang, dalam kondisi yang sangat sulit."

Menteri Pertanian Australia Barat Alannah MacTiernan mengatakan Departemen Industri Primer dan Pengembangan Regional sedang menyelidiki rekaman itu.

Baca artikel lengkapnya dalam bahasa Inggris ditautan ini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA