Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

3.045 Pelecehan Seksual Terjadi di Taksi Daring

Sabtu 07 Dec 2019 03:51 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Nidia Zuraya

Aplikasi taksi daring Uber.

Aplikasi taksi daring Uber.

Foto: Flickr
92 persen korban pelecehan seksual pemerkosaan yang dilaporkan adalah penumpang.

REPUBLIKA.CO.ID, SAN FRANCISCO –- Layanan taksi daring Uber menyebut mendapatkan 3.045 laporan pada tahun 2018 terkait pelecehan seksual di dalam taksi daring di Amerika Serikat (AS). Diantara data tersebut tercatat sembilan orang terbunuh dan 58 tewas dalam kecelakaan.

Jumlah insiden mewakili sebagian kecil hanya 0,0002 persen dari 1,3 miliar transportasi daring Uber yang beroperasi di AS.

Departemen Kepolisian New York mengungkap daftar kejahatan seks dan perkosaan yang terjadi pada layanan taksi daring Uber berjumlah 533 pada tahun 2018. Tetapi pihak Uber mengatakan temuan tersebut tidak meyakinkan.

"Angka-angka itu menggelegar dan sulit dicerna. Layanan Uber ini untuk melayani masyarakat ,” kata Tony West, kepala petugas hukum Uber yang dikutip dari New York Times, Jumat (6/12).

Banyak perusahaan yang berkembang pesat melanggar peraturan dan memungkinkan hampir semua orang diterima menjadi pengemudi taksi daring tanpa penyaringan dan lisensi yang diperlukan dalam industri taksi.

Laporan-laporan tentang kekerasan seksual dan pembunuhan telah menjadi kejadian biasa karena untuk naik kendaraan umum telah menjadi andalan transportasi perkotaan. Banyak perusahaan yang menghadapi banyak tuntutan hukum atas insiden keselamatan penumpang.

Pada 2017, terdapat seorang wanita yang diperkosa oleh pengemudi taksi daring Uber di India. Ia menuntut perusahaan dan eksekutifnya.

Pascainsiden tersebut, Uber dan perusahaan aplikasi transportasi daring lainny mulai memperkenalkan lebih banyak fitur dan prosedur keselamatan penumpang dalam beberapa tahun terakhir. 

Uber telah meluncurkan teknologi otomatis untuk secara teratur memeriksa catatan mengemudi dan sejarah kriminal pengemudi. Sejak 2018, mereka telah menonaktifkan 40.000 driver di Amerika Serikat.
 
Di Brasil, India dan di tempat lain, pembunuhan dan penyerangan yang berasal dari layanan taksi daring dilaporkan meningkat. Didi Chuxing menangguhkan beberapa layanannya di China dan memecat eksekutifnya tahun lalu setelah seorang penumpang wanita diperkosa dan dibunuh.
 
Namun, penelitian Uber menetapkan tolok ukur keselamatan di industri di mana data seperti itu langka. Laporan tersebut membahas keselamatan pengemudi dan penumpang. Korban pembunuhan adalah pengemudi, penumpang dan pihak ketiga.

Dalam kasus pemerkosaan, kata Uber, 92 persen korban yang dilaporkan adalah penumpang. Namun, para pengemudi melaporkan jenis-jenis serangan seksual lainnya dengan tingkat yang kira-kira sama dengan pengendara.
 
Perusahaan tidak spesifik tentang siapa pelakunya. Uber mengatakan pihaknya telah membuat daftar 2.936 serangan seksual pada 2017 dan 3.045 pada 2018.

Daftar serangan seksual tersebut mulai dari ciuman yang tidak diinginkan hingga upaya pemerkosaan dan perkosaan. Kategori terbesar adalah sentuhan non-sensual dari bagian tubuh seperti mulut atau alat kelamin seseorang.
 
Jumlah kecelakaan fatal terkait perjalanan Uber sebanyak 49 kasus pada 2017 dan 58 kasus pada 2018. Statistik mencakup kecelakaan yang terjadi di luar kendaraan Uber, seperti ketika seorang penumpang ditabrak setelah keluar dari taksi, dan kecelakaan di mana pengemudi Uber tidak bersalah.
 
Uber mengungkapkan 10 kasus pembunuhan pada 2017 dan sembilan kasus pada 2018. Tujuh korban adalah pengemudi, delapan adalah penumpang, dan empat adalah pihak ketiga, seperti pengamat di luar kendaraan Uber, kata perusahaan itu.
 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA