Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Trump Ancam Kim Jong-un Bisa Kehilangan Segalanya

Senin 09 Dec 2019 12:35 WIB

Rep: Lintar Satria/Dwina Agustin/ Red: Nur Aini

Nuklir Korea Utara.

Nuklir Korea Utara.

Foto: Reuters/Damir Sagolj
Kim Jong-un kembali uji coba rudal setelah sepakat denuklirisasi dengan Trump.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Pemimpin Korea Utara (Korut) berisiko kehilangan 'segalanya' jika ia kembali bersikap bermusuhan. Hal itu Trump katakan usai Korut mengatakan telah menggelar 'uji coba yang sangat signifikan dengan sukses'.

Baca Juga

"Kim Jong-un terlalu pintar dan kehilangan banyak hal, sebenarnya segalanya, jika ia bertindak memusuhi, dia menandatangani Kesepakatan Denuklirisasi dengan saya di Singapura," cicit Trump, Senin (9/12).

Pada Ahad (8/12) lalu, kantor berita Korut KCNA melaporkan negaranya telah menggelar uji coba 'sangat penting' di lokasi peluncuran Sohae, tempat peluncuran roket yang pemerintah AS katakan akan dibongkar Korut.

"Dia tidak ingin menghilangkan hubungan khusus dengan Presiden Amerika Serikat atau mengintervensi Pemilihan Presiden AS bulan November," kata Trump.

Laporan peluncuran Korut tersebut muncul menjelang berakhirnya tenggat waktu yang mereka tetapkan kepada AS dalam proses denuklirisasi. Di saat negosiasi denuklirisasi berjalan di tempat, Pyongyang memperingatkan AS mereka dapat mengambil 'jalur baru.

"Korea Utara, di bawah kepemimpinan Kim Jong-un, memiliki potensi ekonomi yang luar biasa, tapi harus melakukan denuklirisasi seperti yang dijanjikan," kata Trump di Twitter.

Menurut pakar peluncuran yang dilakukan Korut tampaknya uji coba mesin roket statis, bukan peluncuran misil seperti yang dicurigai.

"Jika benar itu uji coba mesin statis untuk bahan bakar cair atau padat rudal, jika memang belum dilakukan maka uji coba itu adalah sinyal keras pintu diplomasi," kata pakar nuklir dari Massachusetts Institute of Technology. 

Penasihat Keamanan Nasional AS Robert O'Brien mengatakan, uji coba itu menjadi kesalahan yang dibuat oleh Korut. "Itu tidak akan berakhir baik bagi mereka jika mereka melakukannya. Jika Korea Utara mengambil jalan yang berbeda dari yang dijanjikan kita punya banyak alat," katanya.

Uji coba nuklir terakhir Pyongyang berlangsung pada September 2017. Uji coba itu adalah yang keenam kali dan paling kuat. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA