Sabtu, 5 Rajab 1441 / 29 Februari 2020

Sabtu, 5 Rajab 1441 / 29 Februari 2020

Drone AS Dilaporkan Ditembak Jatuh Pertahanan Rusia di Libya

Sabtu 07 Des 2019 17:35 WIB

Red: Nur Aini

Pesawat drone Boeing Phantom Eye milik militer Amerika Serikat.

Pesawat drone Boeing Phantom Eye milik militer Amerika Serikat.

Foto: AP Photo
Drone AS sebelumnya dilaporkan hilang di dekat ibu kota Libya.

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI -- Militer AS percaya bahwa satu pesawat tanpa awak milik Amerika yang dilaporkan hilang di dekat ibu kota Libya bulan lalu kenyataannya ditembak-jatuh oleh pertahanan udara Rusia

Baca Juga

Komando AS di Afrika menuntut dikembalikannya puing "drone" itu. Penembakan seperti itu akan mempertegas peran kekuatan Moskow yang meningkat di negara yang kaya akan energi tersebut. Di sana, tentara bayaran Rusia dilaporkan ikut-campur atas nama komando yang berpusat di Libya Timur Khalifa Haftar dalam perang saudara di Libya.

Haftar telah berusaha merebut Ibu Kota LIbya, Tripoli, yang kini dikuasai oleh Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA), yang diakui masyarakat internasional. Jenderal Angkatan Darat AS Stephen Townsend, yang memimpin komando Afrika, mengatakan ia percaya operator pertahanan udara pada saat itu "tidak tahu itu adalah pesawat milik AS yang dikendalikan dari jauh ketika mereka menembaknya".

"Tapi mereka tentu tahu siapa pemiliknya sekarang dan mereka menolak untuk mengembalikannya. Mereka mengatakan mereka tidak tahu di mana itu tapi saya takkan tertipu," kata Twonseng di dalam satu pernyataan kepada Reuters. Tapi ia tidak memberi perincian.

Juru Bicara Komando Afrika, Kolonel Angkatan Udara Christopher Karns mengatakan penilaian AS tersebut menyimpulkan bahwa baik operator militer swasta Rusia maupun pasukan Haftar, yang bernama Tentara Nasional Libya, mengoperasikan sistem pertahanan udara pada saat "drone" itu dilaporkan hilang pada 21 November.

Karns mengatakan Amerika Serikat percaya operator pertahanan udara menembak pesawat AS itu setelah "keliru mengiranya 'drone' oposisi". Seorang pejabat GNA mengatakan kepada Reuters bahwa tentara bayaran Rusia tampaknya bertanggung-jawab. Pemerintah Rusia menolak mereka menggunakan kontraktor militer di ajang militer asing dan mengatakan setiap warga sipil Rusia yang mungkin berperang di luar negeri adalah tenaga sukarela.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA