Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Ibu Kota Bosnia Dilanda Polusi Udara Berbahaya

Selasa 10 Dec 2019 05:00 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Muhammad Hafil

Ibukota Bosnia Dilanda Polusi Udara Berbahaya. Foto: Warga menggunakan masker untuk menghindari dampak polusi udara (Ilustrasi).

Ibukota Bosnia Dilanda Polusi Udara Berbahaya. Foto: Warga menggunakan masker untuk menghindari dampak polusi udara (Ilustrasi).

Pemerintah Bosnia melakukan berbagai upaya agar kondisi udara membaik.

REPUBLIKA.CO.ID, SARAJEVO -- Pihak berwenang Bosnia mengatakan polusi udara di ibukota Sarajevo telah mencapai tingkat berbahaya dalam beberapa hari terakhir. Untuk mengatasi itu, pemerintah pun melakukan banyak cara agar kondisi udara kian membaik.

Untuk mendorong kualitas udara yang baik, para pejabat melarang kendaraan angkutan di jalan, membatalkan semua acara publik luar ruangan, dan memperingatkan warga untuk tetap berada di dalam ruangan. Upaya mengurangi suhu pemanas sentral berbahan bakar batu bara untuk bangunan dan melarang konstruksi penghasil debu.

Langkah-langkah itu diberlakukan pekan ini oleh pemerintah daerah Sarajevo. Untuk  tiga hari terakhir, nilai untuk partikel PM10 di udara setidaknya dua kali dan terkadang lima kali daru batas Uni Eropa 50 mikrogram per meter kubik.

Terletak di lembah yang dalam dan dikelilingi oleh pegunungan tinggi, Sarajevo secara historis memang berkabut dan debu konsentrasi tinggi. Namun, situasi semakin memburuk dalam dekade terakhir karena proliferasi gedung-gedung tinggi yang menghalangi aliran udara.

Masalah pun muncul ketika penggunaan kendaraan tua dan sangat berpolusi tetap ada di jalanan. Peningkat penggunaan batu bara untuk pemanasan di kota pun menyumbang kualitas udara yang semakin buruk.

Menurut laporan baru-baru ini oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), penduduk Sarajevo terpapar beberapa konsentrasi tertinggi polusi udara di Eropa. PBB mengatakan, kondisi itu telah mengurangi harapan hidup di negara itu hingga 1,3 tahun.

Baca Juga

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA