Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Putin: Korban Pembunuhan di Berlin Seorang Pembunuh

Selasa 10 Dec 2019 12:33 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Ani Nursalikah

Putin: Korban Pembunuhan di Berlin Seorang Pembunuh. Foto ilustrasi Vladimir Putin.

Putin: Korban Pembunuhan di Berlin Seorang Pembunuh. Foto ilustrasi Vladimir Putin.

Foto: EPA/Alexey Nikolsky
Jerman mengatakan mengusir dua orang diplomat Rusia imbas pembunuhan di Berlin.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan laki-laki Georgia yang dibunuh di Berlin, Jerman melakukan pembunuhan di Rusia. Karena itu Rusia meminta laki-laki itu diekstradiksi, tapi tidak diberikan.

Dalam konferensi pers di Paris, Putin ditanya tentang langkah Jerman mengusir dua diplomat Rusia. Jaksa Jerman menuduh Rusia atau Chechnya terlibat dalam pembunuhan seorang laki-laki di taman Berlin Agustus lalu.

"Ada hukum tak tertulis di kasus seperti ini; jika Anda mengusir diplomat kami, kami usir diplomat Anda," kata Putin, Selasa (10/12).

Rusia membantah terlibat dalam pembunuhan tersebut. Pekan lalu, Moskow mengatakan akan membalas apa yang mereka sebut langkah 'tak bersahabat' Jerman tersebut.

Pada Rabu (3/12) pekan lalu, Jerman mengatakan mengusir dua orang diplomat Rusia yang bekerja sebagai pegawai di kedutaan. Pengusiran itu sebagai bentuk protes karena buruknya kerja sama Moskow dalam penyelidikan pembunuhan taman Berlin.

Pengusiran ini juga menandai ekskalasi ketegangan antara Rusia dan Jerman serta negara-negara Barat lainnya. Terutama setelah kasus pembunuhan dengan racun mantan mata-mata Rusia Sergie Skripal dan putrinya di Inggris.

Kanselir Jerman Angela Merkel ikut dalam konferensi pers dengan Putin di Paris dalam pertemuan pemimpin-pemimpin Jerman, Prancis, Rusia, dan Ukraina. Ia mengatakan telah memberitahu presiden Rusia dalam pertemuan bilateral Jerman. Ia berharap Moskow dapat menyediakan informasi untuk penyelidikan pembunuhan bulan Agustus.

Tapi di konferensi yang sama Putin mengatakan laki-laki itu memerangi Rusia. Ia ikut bertempur dalam kelompok separatis anti-Moskow di utara negara itu.

"Dia kejam dan orang yang haus darah, dalam sebuah serangan yang mana ia terlibat di dalamnya ia membunuh 98 orang, ia salah satu orang yang mengorganisir ledakan di metro Moskow," kata Putin.

Presiden Rusia itu tidak menjabarkan bukti-bukti pernyataannya. Ia juga membantah Rusia terlibat dalam pembunuhan tersebut.

"Saya tidak tahu apa yang terjadi padanya, itu bagian lingkungan kriminal dan di sana, apa pun dapat terjadi, tapi saya yakin tidak pantas mengusir diplomat yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan ini, yang sepenuhnya berdasarkan kesimpulan awal," kata Putin.

Orang Georgia yang dibunuh dikenali sebagai Zelimkhan Khangoshvili. Ia ditembak mati saat hendak datang ke masjid.

Jaksa Jerman mengatakan rekaman video keamanan menunjukkan pelaku mendekati korban dengan sepeda. Korban berhasil mendorong jatuh pelaku. Lalu korban mencoba melarikan diri tapi pembunuh mengejarnya dan menembak dua kali.  

Para jaksa Jerman mengatakan ada bukti yang cukup mengindikasi pembunuhan itu berdasarkan perintah pihak berwenang Rusia atau Chechnya. Mereka menambahkan, Moskow menunjuk korban yang berperang melawan Rusia di Chechnya.

Pelaku ditangkap tidak lama setelah pembunuhan terjadi. Penyidik pun menemukan identitas sesungguhnya. Mereka hanya menyebutnya Vadim K atau Vadim S. Majalah Jerman Der Spiegel melaporkan nomor paspor pelaku terkoneksi dengan layanan keamanan Rusia.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA