Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Taiwan akan Bantu Korban Demonstrasi Hong Kong

Rabu 11 Dec 2019 13:44 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini

Foto udara menunjukkan ribuan demonstran masih memenuhi jalanan di Hong Kong, Ahad (8/12). Enam bulan berlalu, pemrotes tak berniat mengakhiri aksi mereka.

Foto udara menunjukkan ribuan demonstran masih memenuhi jalanan di Hong Kong, Ahad (8/12). Enam bulan berlalu, pemrotes tak berniat mengakhiri aksi mereka.

Foto: AP Photo/Dake Kang
Menlu Taiwan menyinggung cara polisi Hong Kong menanggapi demonstrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, TAIPEI -- Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu mengatakan tidak akan ikut campur tangan dengan kondisi yang terjadi di Hong Kong. Namun, Taipei akan membantu bersama komunitas internasional bagi yang kehilangan tempat akibat gejolak yang terjadi.

Baca Juga

"Ketika itu terjadi, Taiwan akan bekerja dengan komunitas internasional untuk memberikan bantuan yang diperlukan bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal akibat kekerasan di sana," kata Wu.

Wu menyinggung polisi Hong Kong telah menanggapi demonstrasi dengan kekuatan yang tidak proporsional selama protes berlangsung. Intervensi dalam bentuk apa pun oleh pasukan China akan menjadi tingkat kekerasan baru. Ketika hal itu sudah terjadi, maka Taiwan terdorong untuk mengambil sikap berbeda dalam membantu yang ingin meninggalkan Hong Kong.

Pasukan paramiliter China telah dikerahkan ke Shenzhen, di luar Hong Kong, sejak protes dimulai pada Juni. Baik mereka maupun ribuan pasukan militer China yang ditempatkan di Hong Kong belum dikerahkan untuk menghadapi para pengunjuk rasa sejauh ini.

"Orang-orang di sini mengerti cara pemerintah China memperlakukan Hong Kong akan menjadi cara mereka memperlakukan Taiwan di masa depan. Dan apa yang ternyata di Hong Kong tidak terlalu menarik bagi orang-orang Taiwan," kata Wu.

Partai Komunis China menegaskan Taiwan adalah bagian dari China dan harus dipersatukan kembali, bahkan dengan paksa. Beijing telah menyarankan Taiwan dapat dipersatukan kembali di bawah model "satu negara, dua sistem" yang diterapkan ke Hong Kong.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan bahwa model "satu negara, dua sistem" telah gagal di Hong Kong dan membawa kota ke ambang kekacauan. Survei pemerintah awal tahun ini menunjukkan sekitar 80 persen warga Taiwan menentang penyatuan kembali dengan China.

China memutuskan hubungan dengan pemerintah Taiwan setelah Tsai menjabat pada 2016. Hal itu terjadi karena penolakan Tsai untuk menerima klaim Beijing tentang pulau itu. Sejak itu telah meningkatkan tekanan diplomatik, ekonomi, dan militer terhadap Taiwan.

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA