Selasa, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 Januari 2020

Selasa, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 Januari 2020

AS Tangguhkan Pelatihan Militer untuk Siswa Saudi

Kamis 12 Des 2019 04:20 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah

Pintu masuk Pangkalan Angkatan Udara AS di Pensacola, Florida. Penembakan oleh letnan Arab Saudi yang sedang belajar di sana menewaskan tiga orang, Jumat (6/12).

Pintu masuk Pangkalan Angkatan Udara AS di Pensacola, Florida. Penembakan oleh letnan Arab Saudi yang sedang belajar di sana menewaskan tiga orang, Jumat (6/12).

Foto: AP Photo/Melissa Nelson
Seorang letnan Saudi melakukan penembakan di pangkalan udara Angkatan Laut AS.

REPUBLIKA.CO.ID, FLORIDA -- Pelatihan untuk semua anggota militer Arab Saudi di Amerika Serikat (AS) dihentikan setelah seorang pilot melepaskan tembakan di pangkalan udara Angkatan Laut di Florida pekan lalu. Tembakan yang dilepaskannya membunuh tiga orang pelaut AS dan melukai beberapa orang lainnya.

Atas peristiwa tersebut, Pentagon mengambil keputusan yang akan berdampak luas terhadap kunjungan anggota militer Arab Saudi ke AS. Pentagon juga melarang terbang 300 anggota militer Arab Saudi yang menjadi siswa penerbangan di AS. Kebijakan ini sebagai bagian dari penangguhan.

Pada Selasa malam (10/12), Pentagon mengatakan kebijakan yang diambilnya akan mempengaruhi anggota infanteri dan semua kegiatan latihan militer Arab Saudi lainnya, kecuali pelajaran di dalam kelas. Kegiatan belajar di dalam kelas, seperti kelas bahasa Inggris bagi anggota militer Arab Saudi akan tetap berlanjut.

Sebelumnya, Mohammed Alshamrani, seorang letnan berusia 21 tahun dari Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi melepaskan tembakan di ruang kelas di Pangkalan Udara Angkatan Laut Pensacola, Florida pada Jumat lalu. Pria berusia 21 tahun ini menewaskan tiga orang pelaut AS dan melukai delapan orang sebelum Alshamrani ditembak mati oleh polisi.

Seorang pejabat senior Pentagon mengatakan telah mengambil langkah merespons peristiwa tersebut. Kemungkinan akan dilakukan peninjauan lebih luas dari prosedur keamanan. Kebijakan ini pada akhirnya akan berlaku untuk semua siswa militer internasional di AS yang jumlahnya sekitar 5.000 orang.

FBI mengatakan mereka yakin Alshamrani bertindak sendiri sebelum dia ditembak mati oleh seorang deputi sheriff. "Saya tidak memiliki bukti yang menunjukkan ada lingkaran yang lebih besar atau konspirasi yang lebih besar (dari peristiwa penembakan itu)," kata seorang pejabat militer, dilansir dari Aljazirah, Rabu (11/12).

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA