Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Cina akan Pindahkan Air dari Lahan Rawan Banjir

Jumat 13 Dec 2019 06:55 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

China akan menggandakan pemindahan air dari daerah rawan banjir di selatan. (ilustrasi)

China akan menggandakan pemindahan air dari daerah rawan banjir di selatan. (ilustrasi)

Foto: google maps
Cina akan menggandakan pemindahan air dari daerah rawan banjir di selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, SHANGHAI -- China akan menggandakan pemindahan air dari daerah rawan banjir di selatan ke daerah kering di utara, kata pejabat pada Kamis (12/12). Pemerintah negara itu sedang mempersiapkan peluncuran tahap kedua skema pengalihan air lintas-negara yang diperdebatkan.

Proyek Pengalihan Air Selatan-Utara pertama kali diusulkan pada 1952 untuk mengurangi banjir di selatan dan kekeringan di utara. Tetapi para kritikus mengatakan biayanya terlalu tinggi dan pengalihan air tercemar ke daerah lain dapat mencemari danau dan sungai lainnya.

Fase pertama proyek selesai lima tahun lalu. Fase ini menghubungkan sungai Yangtze dan Sungai Kuning melalui dua rute utama di China timur dan tengah, dengan rute lain yang lebih menantang di ujung barat masih akan datang.

Pekerjaan awal sekarang sedang dilakukan pada tahap kedua. Ini akan meningkatkan kapasitas pengiriman tahunan dari 8,77 miliar meter kubik menjadi 16,5 miliar meter kubik, kata Shi Chunxian, kepala kantor perencanaan Kementerian Sumber Daya Air.

Shi mengatakan kepada wartawan bahwa tahap II akan memasok provinsi Anhui dan Shandong serta daerah di sekitar Beijing. Ia menambahkan bahwa China akan menggunakan sepenuhnya infrastruktur yang ada untuk meminimalkan dampak lingkungan.

Proyek sejauh ini telah mengirimkan total hampir 30 miliar meter kubik air ke utara dalam lima tahun, memasok 120 juta orang. Demikian kata Wakil Menteri Sumber Daya Air Zhang Youguang.

Namun, meskipun 345 ribu orang telah dipindahkan agar proyek bisa dijalankan, para kritikus mengatakan proyek itu tidak mengatasi masalah China. Termasuk konsumsi air berlebih dari konsumen industri serta sistem pipa perkotaan yang bocor.

Banyak kota di China semakin bergantung pada skema pengalihan air yang rumit. Sementara negara itu masih memprioritaskan prestasi rekayasa besar daripada mengatasi polusi atau meningkatkan konservasi dan efisiensi.

"Mengganti pipa bawah tanah hampir tidak semenarik membangun pengalihan antar-cekungan terbesar di planet ini," kata Darrin Magee, seorang profesor di Hobart dan William Smith Colleges yang memiliki keahlian khusus soal perairan China.

Sumber daya air per kapita China adalah sekitar seperempat dari rata-rata global. Perdana Menteri Li Keqiang pada November mengatakan bahwa saluran baru diperlukan untuk menyalurkan lebih banyak air ke utara dan mengatasi peningkatan kekhawatiran soal pasokan.

Konstruksi juga telah dimulai dengan perpanjangan 'darurat', yang akan mengalihkan 490 juta meter kubik air lainnya per tahun ke Beijing dan daerah sekitarnya. Beijing sudah mengandalkan proyek untuk 70 persen pasokan dan itu bisa naik menjadi 95 persen.

Meskipun ada seruan dari Presiden Xi Jinping untuk mengakhiri pembangunan skala besar di sungai Yangtze, skema pengalihan besar tampaknya akan terus berlanjut. "Saya pikir penghijauan Yangtze, meski tentu saja menjadi prioritas, tidak cukup memiliki urgensi dari sudut pandang stabilitas sosial yang memastikan ada air yang tersedia di Beijing dan Tianjin," kata Magee.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA