Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

ISIS Klaim Bertanggungjawab atas Serangan di Nigeria

Jumat 13 Dec 2019 18:00 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nur Aini

Para militan ISIS (ilustrasi).

Para militan ISIS (ilustrasi).

Foto: AP
Serangan mematikan di pangkalan militer Inates Nigeria menewaskan 71 orang.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Kelompok afiliasi ISIS di Afrika Barat mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap sebuah kamp militer di Nigeria yang menewaskan 71 orang.

Baca Juga

"Negara Islam di Provinsi Afrika Barat (ISWAP) telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan mematikan di pangkalan militer Inates di Niger," demikian laporan  NigerTribune dilansir kantor berita Turki, Anadolu Agency, Jumat (13/12).

Laporan juga menyampaikan bahwa ISWAP mengklaim telah membunuh lebih dari 100 tentara. Serangan itu terjadi di desa Inates dekat perbatasan dengan Mali, tempat para pejuang yang terkait dengan kelompok teror Daesh/ISIS telah lama aktif.

Setelah hari itu, Presiden Nigerien Mahamadou Issoufou menyatakan tiga hari berkabung nasional. Serangan itu juga mendorong Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk menunda pertemuan yang dijadwalkan pekan depan di kota Pau, Prancis barat daya, tempat ia dan lima presiden dari wilayah Sahel akan membahas masa depan misi penjaga perdamaian Prancis di wilayah itu.

Macron mengundang para kepala negara setelah 13 tentara Prancis tewas dalam tabrakan helikopter di Mali utara pada 25 November. Pada Senin kemarin, tiga tentara Niger dan 14 teroris tewas dalam serangan terhadap sebuah pos tentara di wilayah Tahoua barat.

Menurut laporan, Macron ingin para pemimpin Afrika Barat menunjukkan posisi mereka yang jelas tentang kehadiran militer Prancis setelah beberapa protes anti-Prancis. Niger adalah bagian dari gugus tugas lima negara yang dikenal sebagai G5, didirikan pada 2014 dengan Burkina Faso, Mali, Mauritania dan Chad setelah serangan-serangan militan. Dewan Menteri Nigeria baru-baru ini memperpanjang selama tiga bulan, keadaan darurat yang dinyatakan pada 2017 di beberapa daerah untuk memerangi serangan pemberontak.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA