Jumat, 22 Jumadil Awwal 1441 / 17 Januari 2020

Jumat, 22 Jumadil Awwal 1441 / 17 Januari 2020

Harapan Tercapainya Kesepakatan Dagang AS-Cina Gairahkan Pasar Asia

Ahad 15 Des 2019 09:35 WIB

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle

Array

Array

Sumber di pemerintahan AS mengatakan, Presiden Donald Trump telah menyetujui sebuah kesepakatan dagang baru dengan Cina untuk menangguhkan perang dagang berkepanjangan.

Washington telah menetapkan persyaratannya untuk kesepakatan perdagangan dengan Cina, sebagai jalan untuk menangguhkan beberapa tarif impor untuk barang-barang Cina, sebagai imbalan Beijing akan membeli lebih banyak produk pertanian Amerika, kata sebuah sumber AS kepada kantor berita Reuters hari Kamis (12/12).

Baca Juga

Hingga saat ini, Beijing belum memberi reaksi tentang berita itu. Jika tidak ada kesepakatan, putaran perang dagang baru akan bergulir pada 15 Desember, dengan kedua pihak saling menerapkan tarif impor baru.

Pejabat AS itu menjelaskan kepada Reuters, status negosiasi bilateral menetapkan bahwa Amerika Serikat akan menangguhkan tarif senilai 160 miliar dolar pada barang-barang Cina, yang tadinya siap diberlakukan mulai hari Minggu (15/12).

Sebagai imbalannya, Beijing akan setuju membeli produk pertanian AS senilai 50 miliar pada tahun 2020, dua kali lipat dari pembelian pada tahun 2017, sebelum konflik perdagangan dimulai.

"Tawaran terakhir"

Di bursa-bursa Asia, nilai tukar mata uang Cina, Yuan, melonjak ke posisi tertinggi selama hampir lima bulan terakhir terhadap dolar AS, dan saham Cina menguat hari Jumat (13/12) setelah ada harapan kedua belah pihak akan menghindari eskalasi lebih lanjut dalam perang dagang. Namun, baik Washington maupun Beijing tidak membuat pernyataan resmi mengenai kesepakatan yang dicapai.

Dua narasumber yang akrab dengan negosiasi mengatakan, Washington menawarkan untuk memotong tarif yang ada pada barang-barang Cina sebanyak 50% dan menangguhkan tarif baru yang dijadwalkan berlaku hari Minggu, untuk mengamankan apa yang disebut kesepakatan "Tahap 1" yang sudah dirundingkan Oktober lalu.

Kantor berita Reuters melaporkan, Presiden AS Donald Trump dan penasihat utamanya telah menyetujui persyaratan dan menandatangani proposal itu, dan sekarang sedang menunggu Beijing untuk menandatangani secara tertulis.

Seorang pejabat bisnis AS mengatakan, ini adalah "tawaran terakhir" yang telah disetujui oleh Trump tetapi belum ditegaskan oleh Beijing.

Cina belum menanggapi

Juru bicara kementerian luar negeri China Hua Chunying, ketika ditanya tentang status negosiasi perdagangan AS-Cina hari Jumat (13/12), hanya menegaskan bahwa Beijing "berkomitmen untuk menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan" tetapi bahwa kesepakatan harus "saling menguntungkan". Dia tidak berkomentar apakah kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan atau ketentuan.

Tanpa adanya kesepakatan baru, perang dagang yang sudah berlangsung selama 17 bulan bisa berlanjut, dengan kedua pihak saling menerapkan tarif impor mulai hari Minggu (15/12). AS mengancam akan menerapkan tarif impor pada barang-barang dari Cina, termasuk produk-produk seperti konsol video game dan monitor komputer.

Cina membalas dengan menargetkan produk pertanian dari AS, mulai dari jagung dan gandum hingga pesawat kecil. Beijing juga akan menerapkan tambahan tarif 25% untuk kendaraan buatan AS dan tarif 5 persen untuk onderdil mobil, kebijakan yang ditangguhkan pada awal 2019.

Pejabat Cina dan para pengamat perdagangan telah memperingatkan bahwa berlanjutnya perang tarif ini akan memundurkan negosiasi perdagangan dan semakin meningkatkan perselisihan. Beberapa pengamat mengatakan, ada kemungkinan perundingan antara kedua belah pihak ditunda sama sekali sampai pemilihan presiden AS pada November 2020.

hp/vlz (rtr, afp, dpa)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA