Jumat, 22 Jumadil Awwal 1441 / 17 Januari 2020

Jumat, 22 Jumadil Awwal 1441 / 17 Januari 2020

Korut Klaim Lakukan Uji Nuklir Lagi

Ahad 15 Des 2019 13:35 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Indira Rezkisari

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (tengah) saat mengadakan pertemuan presidium partai berkuasa. Korea Utara mengklaim

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (tengah) saat mengadakan pertemuan presidium partai berkuasa. Korea Utara mengklaim

Foto: AP
Spekulasi muncul kalau Korut menggunakan mesin baru untuk uji nuklirnya.

REPUBLIKA.CO.ID, PYONGYANG -- Korea Utara (Korut) mengumumkan keberhasilannya melakukan "uji genting" di lokasi situs peluncuran roket jarak jauh guna meningkatkan pertahanan. Hal ini akan semakin memperkuat penangkal nuklir strategis yang dapat diandalkan.

Akademi Ilmu Pertahanan Korut tidak merinci apa yang diuji pada Jumat itu. Hanya beberapa hari sebelumnya, Korut mengatakan telah melakukan "tes yang sangat penting" di lokasi tersebut.

Spekulasi muncul kalau tes melibatkan mesin baru. Yaitu untuk kendaraan peluncuran ruang angkasa atau rudal balistik antarbenua.

Pengumuman uji krusial baru ini datang ketika Pyongyang terus menekan pemerintahan Donald Trump atas batas akhir tahun yang ditetapkan oleh pemimpin Kim Jong-un dalam menyelamatkan negosiasi nuklir yang tak menentu. Korut menuntut Amerika Serikat (AS) untuk membuat konsesi memecah kebuntuan dalam negosiasi nuklir kedua negara.

Dalam beberapa pekan terakhir, Pyongyang melakukan setidaknya 13 peluncuran rudal balistik yang dimulai pada Mei 2019. Pyongyang meminta AS mengubah sikap hingga akhir tahun dengan mengancam akan memberikan "hadiah Natal" yang tidak menyenangkan jika AS tidak datang dengan konsesi.

Kim telah mengadakan tiga pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump sejak Juni 2018. Namun, sejak pertemuan pertama, hanya sedikit kemajuan telah dibuat dalam upaya menuju denuklirisasi.

Pada Jumat kemarin, kantor berita Korea Selatan, Yonhap, mengutip Institut Strategi Keamanan Nasional, mengatakan bahwa Pyongyang dapat mengumumkan akhir pembicaraan nuklir akhir bulan ini. Lembaga ini berafiliasi dengan agen mata-mata Korea Selatan.

"Untuk saat ini, (Utara) diperkirakan akan mengambil langkah-langkah intensitas rendah, seperti melanjutkan kembali kegiatan nuklir atau memperbaiki lokasi peluncuran roket, tetapi jika (Utara) mengambil tindakan, itu akan dilakukan dengan cara untuk menunjukkan strateginya," ujar lembaga tersebut dilansir Aljazirah, Ahad (15/12).

Pada dasarnya, negosiasi antara Kim dan Trump menitikberatkan keinginan AS untuk Korut menghentikan seluruh program senjata nuklir. Jika hal itu terkabul, maka AS dengan mudah mencabut semua sanksi ekonomi yang telah diberikan kepada Korut.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA