Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Menag Belajar Mengelola Toleransi Beragama di Abu Dhabi

Senin 16 Dec 2019 08:26 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nur Aini

Menteri Agama Fachrul Razi

Menteri Agama Fachrul Razi

Foto: Republika/Fauziah Mursid
Menag membahas moderasi beragama dalam kunjungan kerja ke Abu Dhabi.

REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI -- Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi membicarakan tentang penguatan moderasi beragama bersama Kepala Badan Urusan Agama Islam dan Wakaf UEA, Mohammed Matar Salem bin Abid Alkaabi dalam kunjungan kerja ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) pada 14-17 Desember 2019. 

Baca Juga

Kunjungan kerja Menag di Abu Dhabi diawali dengan mengunjungi Kementerian Urusan Agama Islam dan Waqaf UEA. Menag diterima oleh Kepala Badan Urusan Agama Islam dan Wakaf UEA. Keduanya berdiskusi tentang manajemen urusan keagamaan terutama terkait moderasi beragama.  

Fachrul menilai UEA telah memberikan praktik baik dalam bidang manajemen urusan kehidupan keagamaan. Salah satu tujuan Menag ke Abu Dhabi untuk saling bertukar pikiran tentang manajemen urusan kehidupan keagamaan.

"Saya kira kita bisa belajar banyak dari bagaimana Abu Dhabi mengelola toleransi dan harmoni dalam kehidupan beragama," kata Fachrul melalui siaran pers yang diterima Republika.co.id, Ahad (15/12) malam.

Menag melihat UEA sebagai salah satu contoh negara maju dalam urusan ekonomi dan teknologi serta kehidupan keagamaan. Kemajuan di UEA dibangun dalam bingkai nilai-nilai moderasi, toleransi, dan harmoni yang baik.

"Kami membahas rencana pertukaran keahlian dan pengalaman untuk mempromosikan konsep moderasi Islam dan nilai-nilai toleransi beragama, mempromosikan kesadaran bersama tentang bahaya ideologi ekstremisme," ujarnya. 

Ia mengatakan, di Abu Dhabi dibahas juga sinergi dalam pembangunan kapasitas Imam, penceramah, dan mufti melalui pertukaran praktik pengalaman terbaik serta kunjungan ahli. Poin kerja sama lainnya yang dibahas Menag dan UEA terkait pertukaran keahlian dalam bidang penghafalan Alquran (tahfidz), pembacaan Alquran (tilawah), dan penafsiran (tafsir) Alquran serta Sunnah, serta sinergi dalam pertukaran pencetakan, publikasi, dan penerjemahan Alquran serta pencetakan hasil-hasil penelitian.

Kemenag dan Kementerian Urusan Agama Islam dan Waqaf UEA juga sepakat untuk merencanakan adanya pertukaran pengalaman dalam bidang manajemen, pengembangan, dan investasi wakaf, serta manajemen masjid. Termasuk juga sinergi dalam mempromosikan misi masjid sebagai tempat yang aman untuk beribadah dan penyebaran nilai-nilai keagamaan yang moderat.

"Kami serius menjalin sinergi dengan UEA, rancangan memorandum of understanding sedang dalam tahap finalisasi. Semoga paling lambat awal Januari 2020 sudah bisa diteken kedua belah pihak antara pemerintah Indonesia dan pemerintah UEA," kata Menag.

Menurut Fachrul, sinergi Indonesia dengan UEA sudah terjalin sejak lama. Banyak imam masjid di UEA yang dikirim dari Indonesia. Kerja sama tersebut akan ditingkatkan pada level yang lebih strategis lagi.

Sementara itu, Mohammed Matar mengaku senang dengan para imam yang berasal dari Indonesia. Kepala Badan Urusan Agama Islam dan Wakaf UEA itu berharap kerja sama pengiriman imam dapat terus berlanjut. 

Dia juga menyambut baik rencana kerja sama yang akan ditingkatkan melalui penandatanganan nota kesepahaman. Mohammed Matar berharap hubungan bilateral antara pemerintah UEA dan Indonesia semakin kuat dan kokoh dalam berbagai bidang.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA