Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Protes UU Kewarganegaraan India Berlanjut, Korban Berjatuhan

Senin 16 Dec 2019 09:03 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Pengunjukrasa penentang Revisi UU Kewarganegaraan India membawa poster menentang UU baru di Ahmadabad, India, Ahad (15/12)

Pengunjukrasa penentang Revisi UU Kewarganegaraan India membawa poster menentang UU baru di Ahmadabad, India, Ahad (15/12)

Foto: Ajit Solanki?AP
Protes UU Kewarganegaraan di India telah berlangsung selama lima hari.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Aksi protes penentangan terhadap Undang-Undang Kewarganegaraan India berujung bentrok dan menimbulkan ratusan korban luka-luka. Para pejabat di dua rumah sakit di sekitar Universitas Jamia Millia Islamia di Delhi tenggara mengatakan, lebih dari 100 korban cedera telah dibawa ke rumah sakit.

Baca Juga

"Banyak dari mereka mengalami cedera patah tulang. Kami kehabisan plester untuk gips," ujar seorang pejabat Rumah Sakit Alshifa, Inamul Hassan.

Sementara, Juru Bicara Holy Family Hospital mengatakan, mereka telah merawat 26 mahasiswa yang menderita luka ringan. Ahad (15/12) lalu adalah hari kelima aksi protes terhadap Undang-Undang Kewarganegaraan yang berlangsung di sejumlah negara bagian di India. Undang-undang ini berisi perubahan besar pada hukum kewarganegaraan India dengan memberikan kewarganegaraan kepada pengungsi beragaman Hindu, Sikh, Buddha, Jain, Parsis, dan Kristen dari tiga negara tetangga, yakni Bangladesh, Afghanistan, dan Pakistan. Namun, para kritikus menyatakan, undang-undang tersebut dapat mengancam konstitusi negara.

Polisi berusaha menahan ribuan pengunjuk rasa, termasuk penduduk setempat dan mahasiswa yang berkumpul di dekat Universitas Jamia Millia Islamia di Delhi Tenggara. Bentrokan meletus dan pihak berwenang mengatakan para demonstran membakar bus, mobil, dan sepeda motor.

Polisi menggunakan pentungan dan menembakkan gas air mata ke arah para demonstran. Seorang saksi mata mengatakan kepada Reuters, petugas menyerbu halaman kampus untuk menghalau para pengunjuk rasa yang berlarian ke arah kampus.

"Sekitar 4.000 orang memprotes dan polisi melakukan apa yang mereka lakukan untuk membubarkan mereka ketika massa membakar bus. Jika itu adalah aksi damai, akan dibubarkan secara damai," ujar seorang perwira polisi, Chinmoy Biswal.

Biswal mengatakan, polisi memasuki kampus untuk menjaga ketertiban. Dia menambahkan, enam polisi terluka dalam bentrokan tersebut.

Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh polisi mendapatkan kecaman dari beberapa mahasiswa dan pejabat kampus. Seorang mahasiswa, Tehreem Mirza, mengatakan, para mahasiswa berlindung di perpustakaan setelah polisi menembakkan gas air mata ke dalam kampus. Sementara, staf pengajar senior di Universitas Jamia Millia Islamia, Waseem Ahmed Khan, mengatakan, polisi memasuki kampus dengan paksa.

“Polisi telah memasuki kampus dengan paksa, tidak ada izin yang diberikan. Staf dan mahasiswa kami dipukuli dan dipaksa untuk meninggalkan kampus,” ujar Khan.

Pemerintah setempat memerintahkan semua sekolah di Delhi tenggara ditutup pada Senin (16/12). Pihak Universitas Jamia Millia sudah mengatakan, kampus tersebut telah tutup lebih awal untuk liburan musim dingin. Sementara, Universitas Muslim Aligarh di negara bagian utara Uttar Pradesh juga mengumumkan bahwa mereka tutup lebih awal setelah para mahasiswanya terlibat bentrok dengan polisi.

Ratusan aktivis berkumpul di luar markas polisi New Delhi pada Ahad (15/12) malam untuk memprotes dugaan kebrutalan polisi dan penahanan para mahasiswa. Seorang pengacara yang berusaha menegosiasikan pembebasan mahasiswa yang ditahan mengatakan, sedikitnya 28 ditahan di kantor polisi di Delhi Selatan. Juru bicara polisi tidak memberikan komentar terkait jumlah mahasiswa yang ditahan.

Aksi protes juga terjadi di beberapa negara bagian timur India seperti Assam, Tripura, dan Benggala Barat. Pihak berwenang telah menutup akses internet di beberapa negara bagian sebagai upaya untuk menjaga hukum dan ketertiban. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA