Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Bandara Hong Kong Alami Penurunan Penumpang Terburuk

Ahad 15 Dec 2019 17:00 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Indira Rezkisari

Massa berkumpul di luar Bandara Hong Kong, Ahad (1/9). Operator kereta ekspres di Bandara Hong Kong menunda operasionalnya akibat aksi massa.

Massa berkumpul di luar Bandara Hong Kong, Ahad (1/9). Operator kereta ekspres di Bandara Hong Kong menunda operasionalnya akibat aksi massa.

Foto: AP
November 2019 penumpang Bandara Hong Kong turun 16 persen terburuk sejak 2009.

REPUBLIKA.CO.ID, HONGKONG -- Bandara Internasional Hong Kong melaporkan mengalami penurunan terbesar jumlah penumpang dalam satu dekade terakhir pada bulan November 2019. Bandara Hong Kong merilis data ini pada Ahad (15/12).

Dalam pernyataannya Badan Otoritas Bandara Hong Kong mengatakan pada November hanya menangani lima juta penumpang. Turun 16,2 persen dibandingkan tahun lalu di periode yang sama.

Situs Departemen Penerbangan Sipil menunjukkan penurunan ini menjadi yang paling buruk sejak Juni tahun 2009. Ketika itu jumlah penumpang turun 18,7 persen.

Data Departemen Penerbangan Sipil menunjukkan ada penurunan 12 persen di tiga bulan sebelumnya. Pihak Otoritas Bandara belum menanggapi permintaan komentar.

Sejak bulan Juni lalu Hong Kong diterpa gejolak sosial dan politik. Pada bulan Agustus pengunjuk rasa sempat menduduki dan mengganggu operasi bandara.

Unjuk rasa di daerah otonom China ini kerap berubah menjadi kerusuhan. Bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi sering membuat petugas keamanan melepaskan gas air mata dan peluru karet.

Sementara pengunjuk rasa juga kerap membakar kendaraan dan gedung-gedung. Tidak jarang mereka melempari kantor polisi dengan bom molotov, merusak stasiun-stasiun kereta, menjatuhkan puing-puing dari jembatan ke jalanan yang ada di bawahnya dan merusak mal-mal serta kampus-kampus.

Awalnya demonstran memprotes undang-undang ekstradiksi yang dapat membawa seorang tersangka di Hong Kong diadili di China. Tapi tuntutan pun meluas menjadi lebih besar lagi.

Pengunjuk rasa marah dengan apa yang mereka sebut sebagai campur tangan China. Menurut mereka pemerintah pusat telah melanggar kebebasan yang dijanjikan terhadap Hong Kong saat pulau itu diserahkan kembali oleh Inggris pada tahun 1997.  

China membantah mengintervensi urusan internal Hong Kong. Beijing menyalahkan negara-negara asing seperti Inggris dan Amerika Serikat sebagai dalang kerusuhan di Hong Kong, dikutip dari Reuters.



Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA