Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Kerusuhan Mengakhiri Unjuk Rasa Damai di Lebanon

Senin 16 Dec 2019 16:03 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih

Unjuk rasa damai anti-pemerintah sudah berjalan selama dua bulan. Ilustrasi.

Unjuk rasa damai anti-pemerintah sudah berjalan selama dua bulan. Ilustrasi.

Foto: EPA-EFE/NABIL MOUNZER
Unjuk rasa damai anti-pemerintah sudah berjalan selama dua bulan

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Pasukan keamanan Lebanon melepaskan tembakan gas air mata, peluru karet, dan water canon untuk membubarkan ratusan massa unjuk rasa di Beirut, Lebanon. Kerusuhan pada Ahad (15/12) mengakhiri unjuk rasa damai anti-pemerintah yang sudah berjalan selama dua bulan.

Kerusuhan terjadi menjelang pertemuan antara presiden dan blok parlemen pendukung Perdana Menteri Saad Hariri yang mengundurkan diri Oktober lalu. Hariri diperkirakan akan kembali ditunjuk.

Unjuk rasa yang digelar pada Sabtu (14/12) berlangsung damai. Tapi beberapa pengunjuk rasa melempar botol air dan petasan ke arah penjaga keamanan gedung parlemen setelah beberapa jam pasukan keamanan membubarkan pengunjuk rasa dengan tongkat dan gas air mata.

Pengunjuk rasa berpencar di pusat kota Beirut. Pada satu titik, seseorang membakar dua tenda yang didirikan pengunjuk rasa di Alun-alun Martyrs, pusat unjuk rasa anti-pemerintah yang sudah berlangsung selama 60 hari.

Setelah bentrokan terjadi selama beberapa jam. Tentara dikerahkan ke pusat Beirut untuk mengakhir bentrokan. Pasukan Keamanan Sipil Lebanon mengatakan telah mengirim 20 orang terluka ke rumah sakit. Sebanyak 70 orang lainnya dirawat di lokasi kejadian. Seorang jurnalis foto juga terluka dalam bentrokan tersebut.

Kerusuhan ini mencerminkan semakin terpecahnya Lebanon di tengah krisis ekonomi yang melanda negara itu. Hariri mengundurkan diri pada 29 Oktober setelah gagal menenangkan pengunjuk rasa yang menilai elit politik korup dan gagal mengelola pemerintahan.

Pengunjuk rasa mengatakan mereka tidak akan menerima Hariri kembali menjadi perdana menteri. Pengunjuk rasa menuntut pemerintah independen yang tidak terafiliasi partai mana pun. "Saad, Saad, Saad, jangan bermimpi lagi," kata para pengunjuk rasa meneriakkan aspirasi mereka.

Setelah berpekan-pekan berselisih, partai-partai politik Lebanon gagal menunjuk nama independen. Sebagian besar dari mereka bersikeras untuk mempertahankan pembagian kekuasaan dalam pemerintahan.

Baca Juga

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA