Selasa 17 Dec 2019 08:01 WIB

Erdogan Ancam Tutup Pangkalan Militer AS di Turki

Sengketa antara Turki dan AS berlanjut. Setelah AS berencana menerapkan sanksi atas Turki, kini Presiden Recep Tayyip Erdogan mengancam akan menutup dua pangkalan militer AS di negaranya.

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle
picture-alliance/AP Photo
picture-alliance/AP Photo

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan hari Minggu (15/12) mengancam akan menutup dua pangkalan militer strategis yang digunakan Amerika Serikat di Turki, jika Washington menjatuhkan sanksi pada Turki karena membeli sistem rudal Rusia.

"Jika perlu, kami akan menutup Incirlik dan juga Kurecik," kata Recep Tayyip Erdogan kepada media. Kedua pangkalan militer itu saat ini digunakan oleh Amerika Serikat sebagai basis angkatan udaranya. "Jika ancaman sanksi diterapkan terhadap kita, kita akan menanggapinya dalam kerangka timbal balik."

Baca Juga

Incirlik adalah pangkalan udara di Turki selatan yang telah memainkan peran utama dalam operasi militer AS di Timur Tengah dan Afghanistan. Dari Incirlik pesawat-pesawat tenpur AS juga melakukan serangan terhadap kubu-kubu ISIS di Suriah dan Irak.

Militer AS juga menyimpan sekitar 50 bom nuklir B-61 di pangkalan itu. Sedang pangkalan Kurecik di Turki timur menjadi basis stasiun radar NATO. Ancaman serupa juga pernah diutarakan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, jika AS benar-benar memberlakukan sanksi.

Sengketa setelah Turki beli senjata dari Rusia

Kongres AS sejauh ini telah menekan Presiden AS Donald Trump untuk menjatuhkan sanksi pada Turki atas pembelian dan penyebaran sistem pertahanan rudal S-400 Rusia, yang disebut Washington "tidak sesuai dengan NATO" dan mengancam jet tempurnya F-35. Sebagai tanggapan, AS telah mengeluarkan Turki sebagai negara mitra dari program jet tempur F-35.

Pemerintahan Trump sejauh ini masih menahan diri untuk tidak menjatuhkan sanksi lebih jauh lagi. Namun di bawah undang-undang CAATSA, negara-negara yang membeli perangkat keras militer tertentu dari Rusia harus dikenai sanksi.

Hubungan antara dua anggota NATO, AS dan Turki, makin mendingin setelah serangan militer Turki di timur laut Suriah terhadap pasukan Kurdi yang dulu bermitra dengan AS melawan ISIS. Turki mengirim pasukannya ke kawasan Suriah yang diduduki kelompok Kurdi, setelah Trump menarik militer AS dari perbatasan Turki-Suriah.

Turki menganggap milisi YPG Kurdi di Suriah sebagai kelompok teroris yang memiliki hubungan erat dengan pemberontak Kurdi di Turki.

Presiden Erdogan juga mengancam akan melakukan langkah balasan, setelah Senat dan DPR AS memutuskan resolusi untuk mengakui pembunuhan massal tahun 1915 atas Armenia sebagai genosida. Namun Presiden Donald Trump belum menandatangani resolusi itu.

hp/vlz (afp, rtr, dpa)

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement