Tuesday, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 January 2020

Tuesday, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 January 2020

Xi Jinping Puji Pemimpin Hong Kong

Senin 16 Dec 2019 21:32 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam dipuji dalam menangani gejolak demonstrasi. Ilustrasi.

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam dipuji dalam menangani gejolak demonstrasi. Ilustrasi.

Foto: Ju Peng/Xinhua via AP
Pemimpin Hong Kong dipuji dalam menangani gejolak demonstrasi

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Presiden China Xi Jinping memuji pemimpin Hong Kong Carrie Lam dalam menangani gejolak demonstrasi yang telah berlangsung selama enam bulan terakhir. Lam diketahui sedang melakukan kunjungan selama empat hari ke Beijing.

"Situasi di Hong Kong pada 2019 adalah yang paling kompleks dan sulit sejak kembali ke ibu pertiwi. Pemerintah pusat sepenuhnya mengakui keberanian dan asumsi tanggung jawab yang telah Anda tunjukkan dalam masa-masa yang luar biasa ini di Hong Kong," kata Xi saat bertemu Lam pada Senin (16/12).

Pada kesempatan itu, Xi kembali menegaskan sikap China dalam merespons krisis Hong Kong. Tekad China, kata dia, tak akan goyah dalam membela keamanan dan kedaulatan nasionalnya. Beijing pun menentang intervensi asing dalam masalah Hong Kong.

Lam tiba di Beijing pada Sabtu pekan lalu. Itu merupakan kunjungan perdananya ke China setelah mengalami kekalahan telak pada pemilu November lalu.

Pada pemilu bulan lalu kandidat pro-demokrasi meraih kemenangan besar dengan mengamankan 347 dari 452 kursi yang diperebutkan. Sebaliknya, hal tersebut menjadi kekalahan telak bagi pemerintahan Lam yang pro-Beijing.

Lam mengakui hasil pemilu mencerminkan ketidakpuasan masyarakat atas situasi dan kondisi yang melanda Hong Kong selama enam bulan terakhir. Gelombang demonstrasi yang masih berlanjut membuat perekonomian Hong Kong terpukul.

Aksi demonstrasi di Hong Kong telah berlangsung sejak Juni lalu. Pemicu utama pecahnya demonstrasi di Hong Kong adalah rancangan undang-undang (RUU) RUU ekstradisi. Masyarakat menganggap RUU itu merupakan ancaman terhadap independensi proses peradilan di sana.

Jika disahkan, RUU itu memungkinkan otoritas Hong Kong mengekstradisi pelaku kejahatan atau kriminal ke China daratan. Hong Kong telah secara resmi menarik RUU tersebut. Namun hal itu tak serta merta menghentikan aksi demonstrasi.

Massa menuntut Lam mundur dari jabatannya sebagai pemimpin eksekutif. Lam dianggap terlalu lekat dengan Beijing. Massa pun mendesak agar aksi kekerasan oleh aparat keamanan diusut tuntas.


Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA