Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Menlu Qatar: Kemajuan Penyelesaian Krisis Teluk Kecil

Ahad 15 Dec 2019 17:06 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Menlu Qatar: Kemajuan Penyelesaian Krisis Teluk Kecil. Foto ilustrasi Menteri Luar Negeri (Menlu) Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani

Menlu Qatar: Kemajuan Penyelesaian Krisis Teluk Kecil. Foto ilustrasi Menteri Luar Negeri (Menlu) Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani

Foto: AP /Gregorio Borgia
Perselisihan dengan Qatar melemahkan persatuan negara Teluk.

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA -- Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani mengatakan penyelesaian perselisihan antara negaranya dan beberapa negara Teluk hanya mengalami sedikit kemajuan. Hal itu dia ungkapkan seusai menghadiri KTT Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) ke-40 di Riyadh, Arab Saudi, Selasa (10/12) lalu.

"Kemajuan kecil, hanya sedikit kemajuan," ujar Sheikh Mohammed saat ditanya Reuters mengenai perkembangan proses penyelesaian perselisihan Qatar dengan beberapa negara Teluk pada Sabtu (14/12), dikutip Al Arabiya.

Sheikh Mohammed tak menerangkan secara terperinci tentang perkembangan seperti apa yang telah tercapai. Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani diketahui tidak menghadiri KTT GCC di Riyadh pada Selasa lalu. Dia memerintahkan Perdana Menteri Qatar Abdullah bin Nasser bin Khalifa Al Thani untuk memimpin delegasi negaranya.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud sebenarnya telah secara khusus mengundang Sheikh Tamim untuk menghadiri KTT GCC di Riyadh. "Emir, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menerima pesan tertulis dari Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dari Kerajaan Arab Saudi untuk menghadiri sesi ke-40 Dewan Tertinggi GCC," kata Kementerian Luar Negeri Qatar di situs resminya pada 3 Desember lalu.

Pada akhir Oktober lalu Emir Kuwait Sheikh Sabah al-Ahmad al-Jaber al-Sabah menyerukan agar sengketa diplomatik dengan Qatar segera diakhiri. Menurut Sheikh Sabah, perselisihan antara negara-negara tersebut sangat melemahkan persatuan GCC yang beranggotakan Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Saudi, Oman, Kuwait, dan Bahrain.

“Sangat penting untuk menarik perhatian Anda pada kerusuhan yang melanda wilayah kita yang menimbulkan ancaman dan dampak besar, tidak hanya pada stabilitas dan keamanan kita, tapi juga generasi mendatang,” kata Sheikh Sabah.

Krisis Teluk telah berlangsung sejak Juni 2017. Kala itu, Saudi dan sekutunya menuding Qatar mendukung kegiatan terorisme serta ekstremisme di kawasan. Saudi, Mesir, Bahrain, dan UEA kemudian memutuskan hubungan diplomatik dengan Doha. Mereka juga memboikot negara tersebut.

Baca Juga

Keempat negara mengajukan 12 tuntutan jika Qatar ingin memulihkan hubungannya. Tuntutan itu antara lain meminta Qatar memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran dan menutup media Aljazirah. Qatar telah membantah tudingan yang dilayangkan oleh keempat negara tersebut. Ia pun menolak memenuhi tuntutan Saudi dan sekutunya karena dianggap tak masuk akal.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA